10 Kekhawatiran dan Ketakutan-ketakutan Tersering Ibu Hamil

Kekhawatiran dan Ketakutan-ketakutan Tersering Ibu Hamil

Menjalani kehamilan dengan segala perubahan yang dialami dan mengandung buah hati, menjaganya agar selalu aman dapat membuat kita khawatir.

Khawatir melakukan sesuatu apakah akan mempengaruhi kehamilan atau janin, merasa bingung dengan banyaknya daftar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat hamil.

Kekhawatiran dan ketakutan saat hamil pada dasarnya wajar tapi itu jangan sampai membuat kita berpikir yang tidak-tidak dan tidak masuk akal. Banyak ketakutan dan kekhawatiran yang tak beralasan yang tidak benar yang banyak diyakini sampai saat ini.

Rasa khawatir, takut dan was-was tersebut biasanya muncul karena ketidaktahuan kita. Dengan mengetahui hal-hal di bawah ini kita akan lebih percya diri dan optimis dengan kehamilan kita.

Mari kita lihat satu persatu ketakutan dan kekhawatiran bumil tersebut sehingga kita bisa lebih tenang dan tidak terlalu khawatir dengan pemahaman yang keliru di masyarakat.

Menjawab kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan tersering ibu hamil.

1. Takut makan sesuatu yang akan berbahaya bagi bayi/janin.

Banyak ibu hamil yang takut makan sesuatu atau melakukan sesuatu yang dapat berbahaya bagi janinnya. Kita sering mendengar dari tayangan tv, berita, buku, internet dan dari saran orang lain tentang makanan ini atau itu yang kalau dimakan akan berbahaya bagi janin.

Kita menjadi was-was, parno mengecek setiap label makanan yang dibeli, memeriksa ini dan itu tentang segala hal makanan yang kita makan saat hamil.

Faktanya. Segala macam saran yang kita terima tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi selama hamil akan menjadikan kita sangat terobsesi tentang segala hal kecil yang akan dikonsumsi.

Sebenarnya tak banyak yang dilarang dikonsumsi saat hamil selain makanan seperti daging mentah, seafood yang berlebihan, susu dan keju unpasteurisasi serta alkohol. Minuman seperti kopi yang mengandung kafein pun aman dikonsumsi dalam jumlah yang tak berlebihan.

Oleh karena itu kita tidak perlu khawatir berlebihan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Sepanjang kita mengatur pola makan yang sehat dan seimbang dan sadar apa yang terkandung pada makanan yang akan kita makan, kehamilan dan bayi akan baik-baik saja.

2. Takut kehilangan bayi.

Ternyata tak sedikit ibu yang takut kehilangan bayinya, takut mengalami keguguran, takut terjadi apa-apa dengan bayinya dan lain-lain. Ibu tertentu bisa merasakan ketakutan ini terus-menerus meskipun ia sudah menerapkan pola kehamilan yang sehat, istirahat cukup dan makan makanan yang sehat.

Faktanya. Mungkin agak sulit untuk menghilangkan segala perasaan cemas, gelisah atau takut kehilangan bayi tapi ada beberapa hal yang bisa membuat kita tidak terlalu khawatir.

Pada umumnya keguguran itu terjadi pada trimester pertama kehamilan dan kira-kira terjadi pada 15-25 persen dari semua kehamilan. Tapi setelah usia kehamilan 12 minggu (3 bulan) resiko terjadinya keguguran akan semakin kecil. Jadi apabila kehamilan kita bisa mencapai usia 14 minggu kecil kemungkinan kita akan mengalami keguguran.

3. Takut tertidur menindih bayi di dalam perut.

Kita mungkin ada yang takut, saat tertidur tiba-tiba tidak sadar dan berputar sehingga posisi perut di bawah dan khawatir menindih bayi yang ada di dalam. Mungkin ini kekhawatiran yang berlebihan karena hampir mustahil kita bisa tidur atau baring dalam posisi tersebut.

Faktanya. Kita mungkin berpikir apakah bayi akan aman di dalam sana saat kita dengan tidak sengaja berputar dan tidur dalam posisi perut (tengkurap). Pada dasarnya bayi memiliki ruang yang luas di dalam sana sehingga kita tidak perlu takut bayi akan terjepit.

Menurut ahli kebidanan, tidur dengan perut di bawah (tengkurap) pada masa-masa awal kehamilan adalah aman. Saat perut semakin besar karena usia kehamilan yang bertambah akan sulit untuk tidur dalam posisi tersebut dan kita tidak akan merasa nyaman.

Kita akan mencari posisi tidur yang nyaman secara otomatis sehingga tidak akan membahayakan bayi.

4. Takut bayi cacat atau mengalami kelainan.

Saat hamil kita mungkin ada yang merasa khawatir akan memiliki bayi yang cacat atau mendapat kelainan. Takut bayinya cacat, takut bayi lahir tidak sempurna, takut kelamin bayi ada dua, takut bayi mendapat kelainan genetik (syndrome down), dll.

Faktanya. Kelainan atau cacat bayi baru lahir pada umumnya jarang terjadi, hanya sekitar 1-3 persen dari seluruh kelahiran bayi. Meskipun jarang, tetap saja itu bisa terjadi pada kita.

Meski demikian kita bisa melakukan sesuatu untuk menghindari cacat pada bayi. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk melakukan konseling genetika sebelum menikah, menghindari konsumsi obat-obatan yang bisa berefek pada kehamilan dan janin serta mengikuti segala instruksi dokter, termasuk rajin check-up kehamilan. Tujuannya tidak lain agar kehamilan kita sehat dan bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Bagaimana kalau selama hamil kita tidak sengaja mengonsumsi hal yang dilarang tersebut? Yang bisa kita lakukan adalah berpikir positif dan berharap janin baik-baik saja, toh jumlah yang kita konsumsi mungkin hanya sedikit dan itu hanya sekali, tidak terus-menerus.

Mengonsumsi yang dilarang tersebut tidak berarti kita otomatis akan memiliki bayi yang cacat, hanya resikonya memiliki janin dengan kelainan akan meningkat.

Tidak ada gunanya juga khawatir berlebihan atau membiarkan pikiran buruk menguasai kita karena itu hanya akan membuat kita ‘gila’ dan tidak ada baiknya untuk kehamilan kita. Tetaplah berpikir positif dan memperbanyak mendekatkan diri ke Yang Kuasa.

5. Takut bentuk tubuh terutama wajah berubah.

Ada yang khawatir bentuk tubuhnya akan berubah setelah hamil. Takut hidungnya akan membesar dan tidak ada lagi yang mengenalinya. Takut pinggul dan lengannya melebar sehingga bentuk tubuhnya yang sebelum hamil ramping, akan hilang saat hamil atau setelah melahirkan.

Faktanya. Sebagian dari itu memang benar tapi tidak sepenuhnya tepat. Sebagian ibu mungkin akan menyadari adanya perubahan pada wajah atau tubuh lainnya saat hamil tapi hal tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan berat badan, perubahan hormon dan pembengkakan (akibat ditahannya cairan) saat hamil.

Kabar baiknya, semua itu akan hilang seiring dengan lahirnya bayi, hormon kembali ke keadaan sebelum hamil asal kita bisa menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat.

Lagipula, orang-orang mendramatisir keadaan atau melebih-lebihkan sesuatu. Jika ibu hamil merasa sangat berubah mungkin itu terutama hanya perasaan atau pikiran negatif kita.

6. Takut berat badan tidak akan kembali normal setelah hamil.

Ini mungkin ketakutan yang paling banyak dirasakan oleh ibu hamil. Takut jadi gendut/gemuk, berat badannya naik 20-30 kg dan dan tidak turun-turun pasca melahirkan.

Memasuki trimester kedua kehamilan, nafsu makan ibu hamil biasanya akan meningkat dan itu akan mempercepat kenaikan berat badan saat hamil.

Tak ada yang salah dengan itu sepanjang kenaikan berat badannya normal sesuai dengan usia kehamilan dan kenaikan berat badan itu sebenarnya diperlukan untuk membantu menyediakan energi untuk pertumbuhan janin.

Faktanya. Penampilan kita mungkin tidak akan sama persis seperti sebelum hamil kecuali kalau kita Dian Sastro atau Kim Kardashian, tapi kita tidak boleh memikirkan hal yang dapat membuat kita stress bahkan sebelum bayi lahir.

Yang patut diingat, butuh waktu selama 9 bulan untuk memperoleh semua kenaikan berat itu sehingga kita tidak bisa berharap akan mendapatkan berat badan normal kembali dalam satu malam.

Selain itu, setiap ibu berbeda, tidak semua ibu bisa menurunkan berat badan dengan cepat setelah melahirkan. Kita tidak bisa membandingkan diri kita dengan orang lain yang bisa langsung memakai pakaian sebelum hamilnya pasca melahirkan.

7. Takut melahirkan prematur.

Kekhawatiran ibu hamil kembar adalah melahirkan sebelum waktunya (melahirkan bayi prematur). Seringnya kita mendengar bayi yang lahir prematur membuat kita agak khawatir, jangan sampai itu terjadi pada kita

Faktanya. Ibu yang melahirkan sebelum waktunya (kelahiran prematur) ditemukan kurang lebih 10 persen dari semua kelahiran dan kelahiran prematur tersebut terutama disebabkan oleh faktor atau resiko tertentu yang sudah diketahui sebelumnya.

Kasus bayi lahir prematur umumnya ditemukan pada ibu dengan riwayat melahirkan bayi prematur sebelumnya, kehamilan dengan kembar atau uterus ibu yang tidak terbentuk sempurna.

Meskipun demikian, ada ibu yang melahirkan prematur tanpa adanya gejala atau tanda resiko tersebut. Oleh karena itu, kita harus tetap tenang dan berpikir positif bahwa ini keadaan yang jarang terjadi tapi tetap mempersiapkan diri bila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Simpan nomor telepon rumah sakit atau klinik dan dokter kita.

8. Takut pecah ketuban di tempat umum.

Ada ibu yang takut ke area publik karena khawatir ketubannya pecah dan air ketuban tersebut merembes keluar. Khawatir kejadian itu akan terjadi saat dia sedang mengendarai mobil, saat berbelanja di supermarket atau saat makan di restoran.

Bagaimana saya akan menjelaskan saat celana saya basah, tempat duduk saya basah dan lain sebagainya? Apakah orang-orang tidak akan memandang ‘jijik’ terhadap saya?

Ini adalah beberapa kekhawatiran dan ketakutan yang mungkin saja perasaan kita.

Faktanya. Hal ini bisa saja terjadi dan kadang kita mendengarnya terjadi pada orang lain. Meskipun demikian, kita tidak perlu merasa malu atau cemas pandangan orang terhadap kita saat itu terjadi karena pada dasarnya ini adalah hal yang wajar terjadi pada ibu hamil apalagi mendekat saat melahirkan.

Orang akan mengerti dengan kondisi kita. Dan saat air ketuban keluar tanpa ada tanda sebelumnya, air ketuban tersebut biasanya merembes dan tidak banyak. Tidak tumpah dalam jumlah banyak seperti yang pikirkan.

Sebelum pecahnya selaput ketuban, biasanya akan ada tanda-tanda yang sulit untuk tidak kita sadari seperti adanya kontraksi yang terus-menerus dan dalam intesitas yang besar. Di rumah sakit bersalin pun banyak ibu yang akan melahirkan, selaput ketubannya belum pecah dan baru dipecahkan segera setelah bayi akan didorong keluar.

Oleh karena itu tidak perlu khawatir berlebih terhadap kemungkinan pecahnya air ketuban di tempat umum.

9. Takut ‘ngompol’ di tempat umum.

Ibu hamil bisa mengalami inkontinensia atau sulit menahan untuk buang air kecil. Keluar urin secara tidak sengaja saat batuk, tertawa atau bahkan saat berjalan atau bergerak. Untuk menutupi itu kadang ada ibu yang memakai baju yang panjang sampai ke bawah.

Faktanya. Hal ini memang bisa dialami oleh ibu hamil terutama di trimester terakhir kehamilan saat tiba-tiba tertawa atau batuk tapi ini tidak akan sampai membuat kita ngompol dan membasahi celana kita, hanya sedikit yang mungkin tidak akan merembes ke pakaian luar kita.

Meskipun demikian tesedia pantyliner yang bisa kita gunakan untuk mengurangi efek tersebut dan membuat kita lebih nyaman jika berada di area publik.

10. Takut tak bisa merawat bayi dengan baik.

Ternyata banyak ibu hamil yang takut atau khawatir tidak bisa memberikan perawatan yang baik terhadap bayinya nanti. Karena belum pernah sebelumnya mengganti popok, menyusui atau memberi susu ke bayi banyak dari kita yang takut bahkan untuk menggendong bayi.

Faktanya. Benar, tidak ada ibu yang langsung bisa melakukan itu semua. Tapi itu bisa dipelajari dari orang lain, buku dan lain-lain. Kini tersedia berbagai macam sumber tempat kita bertanya cara merawat bayi yang benar.

Yakinlah, jika menjalani kehamilan kita bisa survive, merawat dan membesarkan bayi pasti kita juga bisa. Yang diperlukan adalah keinginan untuk belajar dan kesabaran.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.