Bayi Batuk Pilek Boleh Imunisasi? Demam Tinggi Imunisasinya Ditunda?

Bayi Batuk Pilek Boleh Imunisasi, Demam Tinggi Imunisasi Ditunda

Manfaat imunisasi sudah tidak dapat diperdebatkan lagi. Dengan meluasnya imunisasi, terutama imunisasi dasar seperti polio, BCG, DTP, Campak, MMR, Hepatitis A/B, Varicella, Hib, PCV, Rotavirus dan Tifoid, kini kita sudah jarang menemukan penyakit yang dulunya umum menyerang anak-anak.

Pemberian vaksin adalah cara terbaik untuk memastikan kesehatan anak. Saat anak sakit, demam, alergi atau flu/pilek kita mungkin ragu apakah anak tetap diimunisasi atau tidak.

Memberikan bayi atau anak imunisasinya tepat waktu adalah keinginan setiap orang tua. Pemberian vaksinasi secepat mungkin dan sesuai waktunya akan memberikan kita ketenangan karena anak akan terlindungi dan lebih tahan terhadap serangan penyakit berbahaya.

Seminggu sebelumnya kita sudah merencanakan dan siap membawa buah hati ke rumah sakit untuk mendapatkan imunisasinya, tapi tiba hari pemberian imunisasi, buah hati kita demam dan pilek. Kita menjadi bingung, apakah dia tetap harus dibawa untuk diimunisasi? Atau, kalau imunisasinya ditunda apakah tidak apa-apa karena anak akan rentan terkena penyakit berbahaya?

Umumnya semua vaksin aman untuk anak, meski demikian ada beberapa keadaan yang memaksa kita untuk menunda atau bahkan tidak memberikan imunisasi. Konsultasikan dengan dokter Ayah dan Bunda apabila mengalami keadaan dilematis ini.

Kapan pemberian imunisasi pada anak yang sakit ditunda kapan tetap boleh diberikan?

Kapan pemberian imunisasi pada anak ditunda?

Anak yang demam ringan, pilek biasa tetap bisa diberikan imunisasi. Tapi ada beberapa keadaan dimana bayi atau anak harus ditunda imunisasinya:

1. Alergi telur.

Vaksin MMR dan vaksin untuk melawan flu dibuat dari telur ayam. Tapi vaksin ini tetap bisa diberikan dengan cara memberikannya dalam dosis yang bertahap.

Penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang alergi telur tidak mengalami reaksi alergi terhadap pemberian vaksin ini, hal ini mungkin karena protein telur yang terdapat di dalam vaksin jumlahnya sangat kecil.

2. Ada riwayat alergi vaksin sebelumnya.

Vaksin tidak dapat diberikan kepada bayi atau anak yang sebelumnya pernah mengalami alergi hebat terhadap vaksin (atau bahan vaksin).

Reaksi alergi hebat terhadap pemberian vaksin sangat jarang terjadi. Reaksi alergi tersebut bisa berupa kulit kemerahan, sulit bernapas dan tekanan darah turun. Reaksi lainnya yang jarang terjadi adalah sakit kepala, demam tinggi dan pusing.

Tapi hati-hati, efek samping pemberian vaksin kadang dianggap sebagai reaksi alergi. Kemerahan pada tempat suntikan dan demam yang rendah adalah reaksi normal yang bisa terjadi setelah pemberian imunisasi dan orang tua tidak perlu khawatir.

3. Demam tinggi.

Bayi yang demam dengan suhu di atas 38.3 derajat celcius biasanya akan ditunda pemberian vaksinnya. Penundaan ini dimaksudkan agar kita dokter bisa membedakan apakah demam tersebut murni disebabkan oleh pemberian imunisasi, yang artinya tidak apa-apa, ataukah demam karena penyebab lain. Bukan karena pemberian vaksin akan memperburuk keadaan anak.

Apabila imunisasi anak ditunda karena demam tinggi silahkan reschedule pemberiannya dengan dokter Ayah dan Bunda.

4. Penyakit asma dan paru.

Anak yang menderita asma dan penyakit paru lainnya sebaiknya mendapatkan vaksin flu setiap tahun karena flu dapat memperburuk kondisi anak.

Vaksin flu yang diberikan adalah yang dalam bentuk suntikan bukan yang disemprot (nasal) karena yang disemprot mengandung virus hidup (meskipun sudah dilemahkan). Berbeda dengan yang disuntikkan, virusnya sudah mati.

Vaksin flu nasal tetap bisa diberikan pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun dan tidak memiliki penyakit asma dan gangguan paru.

5. Anak yang mendapatkan pengobatan steroid dosis tinggi.

Anak yang karena penyakit tertentu mengonsumsi obat kortikosteroid dosis tinggi (asma misalnya) seharusnya tidak diberikan vaksin virus hidup termasuk vaksin flu nasal (semprot hidung), rotavirus, MMR, varicella sampai dia bebas/berhenti meminum kortikosteroid selama beberapa minggu.

Kortikosteroid dapat menekan sistem imun tubuh melawan infeksi virus sehingga beresiko apabila diberikan vaksin hidup. Vaksin tetap bisa diberikan kalau anak hanya mendapatkan steroid dosis rendah (misalnya dengan cara dihirup).

Anak dengan leukemia, limfoma dan AIDS mungkin tidak dapat diberikan vaksin. Pada anak normal, vaksin ini tidak akan berakibat buruk sama sekali bahkan akan sangat bermanfaat tapi pada keadaan dimana terjadi gangguan sistem imun dan efek pemberian obat terapi kanker, kondisi anak bisa semakin lemah.

6. Anak mendapatkan kemoterapi atau anak dengan defisiensi sistem imun (immunodefisiensi).

Anak yang memiliki imun sistem yang rendah karena mendapatkan terapi kemoterapi tidak boleh diberikan imunisasi vaksin hidup. Ini seperti penyakit peradangan usus (inflammatory bowel disease), rematik arthritis anak dan leukemia.

Anak dengan penyakit atau keadaan ini tetap aman diberikan vaksin yang virusnya sudah dimatikan tapi keefektifan vaksinnya mungkin tidak sama dengan anak yang memiliki sistem imun yang baik. Meski demikian, akan lebih baik apabila anak divaksin, selain melindungi dirinya juga melindungi anak/orang lain di sekitarnya.

7. Menderita HIV positif.

Vaksin virus hidup tidak dapat diberikan kepada anak dengan positif HIV dan vaksin lainnya tetap bisa diberikan selama sistem imunnya masih baik. Ada keadaan tertentu dimana imunisasi tetap bisa diberikan, mungkin akan memerlukan pemeriksaan lab yang lebih detail.

8. Di rumah ada yang sakit dengan sistem imun yang rendah.

Jika di rumah terdapat anggota keluarga dengan sistem imun yang rendah, misalnya menderita HIV/AIDS atau mendapat obat yang menekan sistem imun, anak sebaiknya tidak diberikan vaksin hidup, vaksin flu nasal misalnya.

Anak bisa saja batuk atau bersin dan ada partikel vaksin, meskipun sangat kecil, yang keluar dan menyebar mengenai orang yang sakit tersebut.

Bayi demam tidak terlalu tinggi atau sakit ringan tetap bisa diberikan imunisasi.

Melihat pentingnya pemberian imunisasi dan resiko bertambah beratnya penyakit apabila anak tetap diberikan imunisasi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan apakah anak akan tetap mendapatkan imunisasi saat sakit atau perlu ditunda sampai ia sehat kembali.

Yang paling tahu anak boleh atau tidak diimunisasi saat sakit adalah dokter. Untuk membantu Ayah dan Bunda menentukan apakah anak bisa atau tidak diimunisasi kami akan memberikan gambaran sedikit.

Tidak selamanya sakit pada anak adalah sakit yang serius. Biasanya anak mendapatkan infeksi ringan dan pertahanan tubuhnya akan mengatasinya dengan cepat. Mungkin kita pernah mendapati buah hati kita agak demam (kepalanya sedikit hangat), tanpa memberikan apa-apa besoknya dia ceria lagi dan demamnya hilang.

Sakit/demam ringan.

Saat anak hanya demam dengan suhu di bawah 38,2 derajat celsius atau flu/pilek ringan dia tetap bisa diimunisasi. Jika anak demamnya lebih dari 38,3 derajat celcius, mendapat flu berat, batuk hebat atau infeksi serius lainnya, dokter akan menunda pemberian imunisasinya.

Kita mungkin akan kasihan melihat anak yang agak demam tapi tetap diberikan imunisasi, Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir karena ini tidak akan berlangsung lama. Kita bisa meminta ke dokter obat untuk mengurangi demamnya atau obat untuk mengurangi gejala flunya.

Anak batuk, pilek boleh diimunisasi.

Sakit ringan, demam tidak terlalu tinggi, pilek bukan alasan pemberian vaksinasi harus ditunda. Dokter akan memutuskan apakah vaksin aman diberikan saat anak sakit.

Kita boleh saja merasa iba, anak atau bayi yang masih kecil harus divaksin saat kondisinya tidak fit, tapi kita harus ingat, semakin cepat vaksin diberikan akan semakin baik untuk anak karena itu akan memproteksinya dari serangan penyakit berbahaya.

Saat anak sakit, pilek, demam, akan mudah bagi kita untuk membatalkan jadwalnya ke dokter untuk mendapatkan vaksinasi. Ikatan dokter anak di berbagai negara karena saking pentingya dan ruginya kalau bayi tidak mendapatkan imunisasinya tepat waktu, menganjurkan agar anak tetap diimunisasi kalau hanya menderita sakit ringan.

Anak tetap bisa divaksin saat mengalami:

  • Demam ringan, panas anak kurang dari 38,3 derajat celcius.
  • Flu, batuk atau pilek.
  • Infeksi telinga (otitis media).
  • Diare ringan.

Anak tetap diberikan imunisasi pada kondisi demam, flu, batuk, diare seperti disebutkan di atas karena tidak ada manfaatnya jika menunda pemberian imunisasi.

Pemberian vaksin tepat waktu akan melindungi anak dari penyakit berbahaya yang akibatnya akan lebih buruk dibandingkan efek pemberian vaksin pada anak yang sakit ringan.

Dokter akan membantu menentukan apakah anak boleh atau tidak boleh diberi vaksin saat sakit ringan.

Apakah bahaya jika anak yang sakit mendapat imunisasi?

Pemberian imunisasi pada anak yang sakit ringan tidak akan membuat keadaan anak menjadi lebih parah.

Sistem pertahanan tubuh anak memiliki kemampuan untuk menghadapi jutaan antigen setiap hari. Antigen ini adalah agen seperti bakteri, virus yang masuk ke tubuh kita dimana tubuh akan melawan dengan membentuk antibodi.

Vaksin yang tidak lain adalah agen yang sudah dilemahkan hanyalah bagian sangat kecil yang akan direspon oleh anak.

Sistem pertahanan anak mampu menerima dan membangun sistem imun untuk melawan penyakit disaat bersamaan juga mampu melawan penyakit yang menyerang.

Pemberian imunisasi saat anak sakit ringan tidak akan memperparah kondisi anak. Akan muncul hal yang kita sebut efek samping (meskipun sebenarnya imunisasi tidak memiliki efek samping, hanya reaksi/efek ikutan) seperti demam dan kemerahan/nyeri pada daerah suntikan.

Untuk mengatasi ini kita akan diberikan oleh dokter obat untuk menurunkan demam, mengatasi sakit dan bengkak, kita juga bisa memberikan kompres dingin pada daerah yang sakit.

Vaksin tetap efektif dan aman diberikan pada anak yang sakit ringan

Pemberian imunisasi pada bayi/anak yang sakit ringan juga tidak akan mempengaruhi keefektifan vaksin, tidak akan mempengaruhi bagaimana tubuh berespon terhadap vaksin.

Vaksin akan melindungi sama baiknya dengan anak yang divaksin dalam keadaan sehat.

Bagaimana dengan anak yang minum antibiotik, apakah tetap bisa divaksin?

Ya, vaksin tetap bisa diberikan.

Anak mungkin akan mendapatkan obat antibiotik untuk melawan infeksi bakteri karena menderita sakit ringan seperti infeksi telinga atau flu. Antibiotik tidak akan mempengaruhi pemberian vaksinasi dan keefektifan vaksinasi setelahnya.

Pemberian obat anti virus misalnya pada anak yang menderita flu, meskipun ini jarang dilakukan, obat seperti Tamiflu, dapat mempengaruhi repon tubuh terhadap vaksin. Oleh karena itu saat diberikan obat ini, dokter biasanya akan menunggu sebelum memberikan vaksin tertentu.

Kalau pemberian imunisasi ditunda, kapan imunisasinya diberikan?

Sakit/demam moderate dan berat.

Bayi atau anak yang imunisasinya telat atau ditunda karena mengalami sakit atau demam yang moderate dan berat, setelah sehat imunisasinya sebaiknya segera diberikan.

Setelah anak sehat jangan menunda untuk memberikan imunisasinya yang tertunda. Semakin cepat anak divaksinasi semakin cepat dia akan terlindungi.

Hubungi atau konsultasi dengan dokter untuk pemberian imunisasi buah hati mom.

Rencanakan jauh hari sebelumya untuk pemberian imunisasi DPT dan MMR.

Setiap imunisasi memiliki reaksi ikutin (awamnya kita biasa menyebutnya dengan efek samping, meskipun sebenarnya vaksinasi tidak memiliki efek samping).

Vaksin DPT dan MMR biasanya menyebabkan dampak/reaksi ikutan yang ringan. Setelah pemberian imunisasi DPT dan MMR anak bisa sakit/demam ringan beberapa hari, bisa timbul seminggu setelah pemberian imunisasi.

Apabila Ayah dan Bunda merencanakan untuk melakukan perjalanan, liburan atau mengadakan acara penting, kita mungkin tidak ingin memberikan vaksinasi DPT dan MMR sebelum itu. Berikan setelahnya sehingga liburan atau rencana Ayah dan Bunda tidak terganggu karena anak demam setelah diberikan vaksinasi.

Tidak ada alasan anak yang sehat tidak diberikan imunisasi. Tidak adanya perlindungan dari imunisasi seperti BCG, MMR, Campak dan Polio hanya akan membuat buah hati kita rentan terhadap penyakit berbahaya. Untuk buah hati, berikan imunisasinya sesuai jadwalnya dan jangan menunda bila tidak ada alasan jelas.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.