Berlatih Pernapasan Yang Benar Agar Melahirkan Normal Lancar

Berlatih Pernapasan Yang Benar Agar Melahirkan Normal Lancar

Mungkin ada yang bertanya untuk apa kita belajar teknik pernapasan untuk menghadapi persalinan. Ya, meskipun sudah banyak diterapkan di rumah sakit atau rumah bersalin untuk membantu ibu melahirkan, di negara kita teknik ini memang belum begitu familiar. Tidak seperti di negara maju yang sudah umum diterapkan.

Kita belum menganggap pentingnya belajar teknik ini dan mempersiapkan diri sebelum melahirkan padahal manfaatnya banyak sekali baik untuk ibu hamil maupun janin. Kami lihat cara bernapas yang benar ini hanya diperkenalkan atau diajarkan oleh bidan atau dokter saat ibu di tempat tidur, akan melahirkan.

Pernapasan yang baik dan teratur (berirama) selama proses persalinan akan membantu menyediakan oksigen yang optimal yang dibutuhkan oleh ibu dan bayi yang akan lahir. Selain, pernapasan yang benar akan membantu mengurangi nyeri yang dirasakan saat kontraksi.

Pernapasan yang benar sangat membantu saat persalinan.

Proses melahirkan dan nyeri saat melahirkan bisa membuat kita panik dan menjadi tegang.

Saat kita tegang, panik atau takut, pernapasan kita secara refleks akan menjadi cepat dan dangkal. Otot-otot bahu dan leher akan menjadi kaku dan tegang, bahu tertarik ke dekat telinga dan kita akan mulai bernapas dengan sangat cepat, menarik udara ke dalam paru-paru dan mengeluarkannya dengan cepat.

Pernapasan saat kita panik akan sangat buruk bagi kita dan janin karena oksigen yang kita hirup menjadi sangat berkurang. Kita akan merasa pusing dan kehilangan kendali. Hal ini sebenarnyanya normal saat kita panik menghadapi sesuatu.

Akan tetapi, ini tidak bisa kita pertahankan karena akan berefek buruk bagi kita. Pada ibu hamil, selain oksigen yang kurang untuk ibu dan janin, kita juga akan mulai merasa kecapean dan kehilangan tenaga.

Energi ini sangat kita perlukan saat melahirkan untuk membantu berkuat atau mengejan. Saat tenaga ibu lemah, melahirkan mungkin akan dilalui dengan bantuan alat (forsep) atau rangsangan (induksi persalinan).

Oleh karena itu, menghemat energi saat melahirkan sangat penting selain menyediakan oksigen yang cukup untuk janin dan disinilah pentingya ibu hamil belajar teknik pernapasan yang benar.

Berlatih cara bernapas yang baik dan benar saat melahirkan.

Pola pernapasan.

Pertama kita sebaiknya mengetahui tentang pola pernapasan untuk membantu proses persalinan.

Cobalah tenang, tutup mata dan rasakan bagaimana pernapasan kita yang teratur. Kita menghirup udara lalu berhenti sebentar sebelum mengeluarkannya kembali. Saat menghirup dan mengeluarkan udara tersebut lamanya atau dalamnya kurang lebih sama.

BACA JUGA: Mempersiapkan Diri Baik Fisik Maupun Mental Menghadapi Persalinan

Polanya “tarik-napas” lalu “berhenti sejenak” kemudian “buang-napas”.

Ini adalah pola pernapasan yang benar. Ada jeda waktu sedikit antara menghirup udara dan mengeluarkannya. Jangan menghirup udara lebih lama dari mengeluarkannya atau sebaliknya.

Paling tidak, saat mengeluarkan udara waktunya lebih lama dari saat menghirup udara. Saat kita mengalami kontaksi yang kuat saat melahirkan, pernapasan kita akan mulai pendek. Ini normal asal tidak diikuti dengan pernapasan yang semakin cepat bahkan menjadi pernapasan panik.

Cara pernapasan ini sangat efektif membantu saat melahirkan, praktekkan berulang-ulang sehingga kita akan semakin terbiasa dan semakin siap menghadapi persalinan.

Latihan tehnik pernapasan yang benar untuk menghadapi persalinan normal:

1. Pikirkan kata “rileks” yang terdiri dari kata “ri” dan “leks” lalu coba lakukan latihan ini.

Saat menghirup udara ingat kata “ri” dan saat mengeluarkan udara pikirkan kata “leks”. Saat bernapas cobalah fokus untuk rileks. Saat melepaskan udara cobalah untuk melepaskan segala ketegangan dari tubuh dan fokus ke otot-otot yang dirasa tegang. Setiap saat akan mengeluarkan udara pikirkan “leks”.

Saat mengeluarkan udara ini penting karena kalau kita bisa mengendalikan pernapasan saat mengeluarkan udara, secara otomatis saat menghirup udara kita akan rileks.

2. Kita juga bisa menghitung saat menarik napas dan saat mengeluarkan napas.

Hitunglah dengan lambat 1, 2, 3 atau sampai 4 (atau sampai berapapun yang kita rasa nyaman) saat menarik napas dan hitung kembali sampai 3 atau 4 saat mengeluarkan udara. Umumnya orang akan nyaman menghitung sampai 3 saat menghirup udara dan 4 saat mengeluarkan udara.

3. Usahakan menarik napas dengan hidung dan mengeluarkannya melalui mulut.

Jaga mulut tetap lembut saat mengeluarkan udara. Jika merasa nyaman dengan mengeluarkan suara seperti “aaaaaaah” atau “ooooooh” saat mengeluarkan udara, kita bisa melakukan itu. Ibu bisa minta dibantu minum air atau susu (atau lainnya) dengan pipet untuk mengembalikan energi dan mencegah mulut kering.

Dukungan keluarga atau pendamping persalinan.

Di kamar bersalin kita kadang melihat bidan atau dokter membantu, atau lebih tepatnya memandu ibu yang melahirkan untuk bernapas dengan benar.

BACA JUGA: Beragam Cara Mengurangi Nyeri Melahirkan, Epidural Salah Satunya

Ya, saat kontraksi yang menyakitkan datang, merasa kelelahan dan bosan dengan proses persalinan yang sudah lama tapi belum selesai, membuat kita kesulitan menjaga irama pernapasan secara teratur. Tidak mudah tapi adanya pendamping akan sangat membantu.

Pendamping bisa anggota keluarga kita seperti suami yang sudah tahu sebelumnya tentang teknik pernapasan yang benar atau bidan dan dokter akan membantu kita bernapas dengan teratur dengan cara ikut bernapas dengan kita.

Ibu hamil menjaga kontak mata dengan pandamping tersebut, bisa memegang tangannya atau menempatkan tangannya di perut kita dan mengikuti pola pernapasannya. Menarik napas saat pendamping menarik napas juga melalui hidung, dan mengeluarkannya melalui mulut saat pendamping juga mengeluarkan napas.

Mempraktekkan ini sangat baik saat hamil, kita bisa mengajak pasangan untuk belajar bersama. Simpel tapi akan sangat bermanfaat saat waktunya melahirkan tiba.

Pernapasan dan berkuat (mengejan).

Di fase 2 saat melahirkan (kala 2 persalinan) saat kita mengejan atau berkuat untuk membantu mengeluarkan bayi, kita diminta untuk mendorong kuat dan menahan napas selama mungkin. Ini adalah metode lama dan tidak dipakai lagi.

Tidak ada bukti yang menunjukkan ini efektif dan baik untuk ibu dan bayi. Sebaliknya cara ini justru akan meningkatkan resiko ibu mengalami robekan jalan lahir. Meskipun robekan jalan lahir (vagina) bisa ditangani dengan baik (dijahit) tapi tidak ada gunanya mempertahankan cara ini kalau manfaatnya tidak efektif.

Sebaiknya saat kontraksi, berkuat atau doronglah bayi saat memungkinkan dan kita merasa perlu melakukannya. Kita akan merasakan perlu berkuat sebentar 3-5 kali setiap kontraksi yang diantaranya disertai dengan menarik napas beberapa kali.

Kapan tidak boleh mengejan (mendorong)?

Dokter atau bidan akan menyampaikan kapan ibu boleh berkuat atau mendorong. Dokter akan menunggu sampai mulut serviks terbuka sempurna (disebut juga dengan pembukaan lengkap) sebelum meminta ibu berkuat.

Apabila ibu berkuat sebelum mulut rahim terbuka lengkap, itu akan membuat mulut rahim bengkak karena dorongan kepala bayi terus menerus pada ‘pintu’ yang belum terbuka sempurna dan akan menyulitkan proses melahirkan. Jadi kita harus menunggu pembukaan lengkap sebelum mendorong.

Merasakan kontraksi terus-menerus tapi kita harus menahan untuk tidak berkuat adalah hal yang sulit. Disinilah peran teknik pernapasan yang teratur penting.

Saat kontraksi datang cobalah bernapas dengan teknik yang diajarkan di atas. Kita bisa mengganti posisi selama itu, duduk atau sandar atau apapun yang dirasa nyaman.

Saat kontraksi hilang cobalah bernapas kembali secara normal. Setiap kontraksi datang cobalah tenang dan ingat untuk “jangan dorong”.

Setelah pembukaan serviks lengkap dan kita diminta untuk mendorong tetaplah tenang dan ingat kembali “ri” dan “leks” seperti yang dijelaskan sebelumnya.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.