Cemas, Gelisah Saat Hamil. Berikut Faktanya Yang Perlu Ibu Tahu

Cemas, Gelisah Saat Hamil. Berikut Faktanya Yang Perlu Ibu Tahu

Senang, bahagia yang menyertai kehamilan biasanya diikuti dengan perasaan cemas, gelisah dan perasaan tidak tenang. Perubahan homon yang mengakibatkan perubahan mood disertai dengan fakta bahwa kita hamil yang membawa konsekuensi lain membuat kita berpikir berlebihan dan tidak-tidak.

Saat hamil, kita akan mulai galau, was-was, mencemaskan hal-hal seperti apakah bayi akan lahir sehat, bagaimana kalau bayi saya lahir cacat, janin mati dalam kandungan, bagaimana kalau saya keguguran sampai hal seperti apakah saya nanti bisa melahirkan dengan lancar, apakah saya akan tahan menghadapi nyeri saat melahirkan, apakah saya nanti mampu merawat bayi, apakah saya nanti bisa menyusui bayi dan lain-lain.

Tidak berhenti di situ. Kita juga akan mulai bertanya apakah makanan ini bisa saya makan, apakah minum kopi boleh, apakah bahaya dekat-dekat dengan kucing, apakah saya tidak bisa makan sushi dan sekumpulan pertanyaan lainnya.

Sayangnya, di masyarakat kita berkembang mitos dan kepercayaan yang tidak menjadikan kita lebih tenang saat hamil. Kita menjadi takut dan terlalu khawatir dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita cemaskan dan melupakan hal-hal penting yang seharusnya kita perhatikan saat hamil, hal yang sebenarnya bisa berbahaya bagi janin dan kehamilan.

Untuk membantu menenangkan pikiran, kita mungkin akan berusaha mencari informasi dari internet atau bertanya ke teman atau kerabat.

Contohnya saat periksa kehamilan, dokter agak lama menemukan denyut jantung janin. Itu membuat kita tiba-tiba khawatir dan mulai berpikir yang tidak-tidak padahal sebenarnya itu normal-normal saja.

Ibu hamil sering cemas, was-was. Ini faktanya!

Kenapa ibu hamil sering cemas, gelisah dan tidak tenang

Kekhawatiran dan rasa cemas selama hamil sebenarnya normal. Itu membuat kita menjadi alert (perhatian) pada hal-hal kecil yang akan mengganggu kesehatan kehamilan dan janin. Tapi, ketakutan dan kecemasan itu harus didasarkan pada fakta yang logis (ilmiah) bukan berdasarkan mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar ilmiah.

Faktanya, resiko kehamilan dan persalinan seperti bayi cacat, bayi lahir prematur, dll jarang terjadi. Apabila kita memiliki kesehatan yang baik, mengikuti anjuran dokter, rajin periksa kehamilan, resiko itu akan semakin kecil.

Jauhkan pikiran negatif, bayangkan hal-hal yang menyenangkan.

Tapi kan itu tetap saja bisa terjadi pada kita. Ya, betul! Tapi kalau kita terus-menerus berpikiran negatif dan mencurahkan segala pikiran pada hal yang belum tentu terjadi, itu hanya akan membuat kita tidak tenang, semakin tertekan dan stres.

Alangkah baiknya kalau kita tetap berpikiran positif, menjauhkan pikiran negatif. Fokus untuk belajar bagaimana memiliki kehamilan yang sehat, baik belajar dari buku atau dari website seperti ini, banyak bersyukur, berdoa. Itu akan jauh lebih baik dan produktif.

Ada saran yang baik yang bisa kita ikuti. Saat di pikiran kita muncul hal negatif, fokuskan pikiran kita untuk memikirkan dan membayangkan hal-hal yang baik dan menyenangkan. Misalnya, saat kita khawatir bayi akan cacat, fokuslah membayangkan hal sebaliknya, bayi kita lahir sehat, lengkap tidak kurang sesuatu apapun, ganteng, cantik, senyumnya ceria, dll.

Belajar tentang kehamilan dan merawat bayi untuk meningkatkan percaya diri.

Dengan tahu kita akan lebih tenang, tahu harus menghindari apa saja saat hamil, tahu sebaiknya melakukan apa saat hamil. Kita menjadi percaya diri menjalani kehamilan tanpa terpengaruh oleh mitos dan kepercayaan yang salah di masyarakat.

Apabila kita mengetahui fakta atau hal yang sebenarnya, itu akan menurunkan atau menghilangkan rasa khawatir dan cemas kita. Daripada kita terus-terusan mencemaskan hal yang tidak bisa kita kendalikan (misalnya minum alkohol dan terlambat tahu kalau kita hamil), lebih baik kita fokus menjaga hal yang bisa kita kendalikan (menjaga kenaikan berat badan ideal saat hamil misalnya).

Hal yang biasa dicemaskan oleh ibu hamil dan cara mengatasinya.

Berikut ini beberapa hal-hal yang sering dicemaskan oleh ibu hamil dan cara mengatasinya:

1. Khawatir bayinya/janin cacat.

Fakta, bayi lahir cacat jarang terjadi. Sebagian besar bayi lahir normal tanpa adanya cacat berat seperti spina bifida dan down syndrome. Cacat ringanpun yang jumlahnya kecil biasanya bisa dikoreksi/ditangani dengan operasi.

Kejadian seperti bayi lahir dengan kelainan jantung (yang sangat jarang terjadi) bisa dilakukan operasi. Dengan semakin canggihnya teknologi kedokteran itu bisa diperbaiki.

Ibu hamil yang sehat dan tidak memiliki resiko tinggi memiliki resiko terjadinya bayi lahir cacat yang rendah. Jadi kalau kita tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak ada diabetes, obesitas, resiko memiliki bayi yang lahir cacat akan semakin rendah.

Yang bisa dilakukan adalah, sejak mengetahui hamil atau merencanakan hamil, lakukan segala hal yang diperlukan untuk mendukung kehamilan dan janin yang sehat. Hindari merokok, minum alkohol kalau merencanakan kehamilan (meskipun saat itu belum hamil).

Umumnya cacat lahir terjadi pada kehamilan muda (minggu pertama dan kedua kehamilan). Menunggu sampai tahu hamil untuk merubah kebiasaan buruk mungkin sudah terlambat bagi kita untuk mencegah terjadinya cacat pada janin.

Terapkan pola hidup sehat dengan makan makanan yang sehat dan seimbang. Hindari makan ikan yang mengandung merkuri, hindari merokok dan minuman alkohol, hindari minum obat tanpa resep dokter, hindari makanan mentah yang tidak dimasak sempurna (telur, ikan dan daging mentah).

Konsumsilah asam folat 400 mikrogram setiap hari tapi jangan berlebihan. Ini baik untuk pembentukan saraf janin, menghindari terjadinya cacat saraf. Hindari kontak dengan kotoran kucing, minta orang lain untuk membersihkan kandangnya. Toksoplasma yang ada di kotoran kucing dapat menyebabkan penyakit yang disebut toksoplasmosis yang dapat menyebabkan keguguran.

Kalau memiliki berat badan berlebih, jika merencanakan kehamilan, ada baiknya diet dan menurunkan berat badan. Jaga kadar gula darah tetap rendah (normal), dll.

2. Takut mengalami keguguran.

Fakta, resiko terjadinya keguguran sebenarnya sangat rendah. Keguguran yang terjadi pada awal masa kehamilan biasanya terjadi tanpa kita sadari saat hamil.

Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, kemungkinan terjadinya keguguran akan semakin kecil sehingga kalau saat periksa kehamilan oleh dokter kita melihat adanya denyut jantung janin yang biasanya pada usia kehamilan 6 atau 7 minggu, kemungkinan terjadinya keguguran sudah kecil.

Yang bisa kita lakukan, selalu ingat bahwa sebagian besar keguguran terjadi akibat kromoson (DNA) yang tidak normal dan itu tidak bisa dihindari (dikontrol). Hasil penelitian juga tidak menemukan bahwa mengangkat beban berat, hubungan seks saat hamil dan olahraga menyebabkan keguguran.

Meskipun demikian, ada penelitian baru yang menemukan bahwa minum kopi 2 atau 3 cangkir sehari meningkatkan resiko terjadinya keguguran. Seperti halnya dengan infeksi akibat hubungan seksual dan infeksi gusi meningkatkan resiko terjadinya keguguran (miscarriage).

Jadi, konsumsi kopinya maksimal 1 gelas sehari saja ya, jangan berlebih.

3. Khawatir karena stres berlebihan.

Fakta, stres yang dipicu oleh aktivitas sehari-hari seperti terlambat ke kantor, macet di jalan, berdebat atau bertengkar dengan pasangan (suami), pakaian belum dicuci atau belum dibawa ke laundry, tekanan atau beban kerja di kantor tidak akan mengganggu kehamilan dan kesehatan janin dalam kandungan.

Yang perlu dikhawatirkan adalah stres berat yang biasanya diikuti dengan depresi karena inilah yang bisa menyebabkan gangguan kehamilan seperti keguguran dan bayi lahir dengan berat badan rendah.

Stres yang berlebihan ini jarang terjadi. Apabila mengalaminya, kita mungkin akan sulit menjalani aktivitas sehari-hari atau sulit bekerja sama dengan teman kantor. Stres yang ringan, yang tidak sampai menyebabkan hal ini tidak akan menyebabkan gangguan pada kehamilan.

Yang bisa dilakukan untuk mengatasi ini adalah, apabila merasa mengalami stres atau depresi, kita bisa melakukan relaksasi untuk menurunkan kadar hormon stres. Bisa juga dengan melakukan ibadah, mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Kita bisa memanfaatkan tehnik bernapas yang kita pelajari saat akan melahirkan. Coba tarik napas dalam dan bayangkan hal yang kita alami dan saat mengeluarkan napas kita membayangkan secara bersamaan melepaskan juga apa yang menjadi perhatian atau masalah yang kita alami.

4. Bayi lahir prematur.

Fakta, kelahiran prematur tidak bisa dianggap remeh meski demikian, sebagian besar bayi yang lahir adalah bayi yang lahir setelah usia kehamilan 37 minggu. Kelahiran ini sudah bisa dianggap cukup bulan.

Sebagian kecil lainnya lahir tidak cukup bulan (lahir prematur) dan dari jumlah ini sebagian besar bayi, lahir antara minggu ke-34 sampai 37, yang meskipun tetap beresiko mengalami masalah kesehatan, tapi di usia ini kemampuannya untuk bertahan sudah lebih baik dibandingkan dengan bayi prematur yang lahir lebih cepat.

Resiko memiliki bayi lahir prematur meningkat apabila kita pernah melahirkan dengan bayi prematur sebelumnya, hamil dengan bayi kembar dan memiliki masalah atau kelainan dengan serviks (mulut rahim) dan rahim (uterus). Jadi kalau kehamilan kita normal dan tidak memiliki kelainan tersebut, kecil kemungkinan kita akan melahirkan bayi prematur.

Yang bisa kita lakukan adalah, menjaga gaya hidup sehat dan seimbang sehingga kita terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi dan diabetes saat hamil. Jaga kadar gula darah dan tekanan darah tetap normal.

Hindari merokok, minuman beralkohol dan minum obat terlarang atau obat yang tanpa resep dokter. Dapatkan imunisasi yang diperlukan saat hamil (tetanus toksoid/TT) dan obati dengan baik apabila mengalami infeksi saat hamil karena itu bisa mengakibatkan bayi lahir prematur.

5.Khawatir tidak bisa menahan nyeri saat melahirkan.

Faktanya, persalinan memang akan menyakitkan, dari skala nyeri 1-10, umumnya ibu yang pernah melahirkan mengatakan nyeri melahirkan antara 7 sampai 8. Tapi, ada cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi nyeri akibat melahirkan atau setidaknya membuat kita lebih tahan terhadap nyeri yang dirasakan.

Kita bisa belajar teknik pernapasan yang benar, sering merubah posisi saat melahirkan, melakukan teknik relaksasi, melahirkan dalam air, dll.

Kalau ingin, kita bisa meminta dokter untuk diberikan obat anestesi (bius) saat persalinan normal. Anestesi epidural umumnya aman dan baik untuk ibu, tidak meningkatkan resiko melahirkan dengan operasi caesar atau memperburuk kondisi bayi (skor APGAR).

Yang bisa kita lakukan adalah, berusaha mencari tahu banyak tentang persalinan. Mengetahui pilihan apa saja untuk mengurangi nyeri persalinan, diskusikan dengan dokter Moms. Cari tahu bagaimana proses melahirkan itu, ketahui bagaimana cara mengejan atau ngeden yang benar. Dengan mengetahui apa yang akan kita alami kita akan lebih tenang dan tidak cemas berlebihan.

Apabila kita khawatir berlebih, terlalu takut, cemas, itu hanya akan membuat kita tegang dan mengakibatkan nyeri yang dirasakan akan semakin buruk.

6. Takut makan sushi.

Faktanya, makan makanan yang tidak matang/belum dimasak sebaiknya dihindari saat hamil. Meski demikian, resiko terjadinya infeksi tetap kecil. Makan sushi bukan berarti kita otomatis akan terkena infeksi parasit atau bakteri. Kalau kita makan di restoran yang bersih, kemungkinan terkena infeksi kecil karena cara pengolahan ikannya baik.

Kita tetap harus hati-hati dan sebaiknya menghindari sushi saat hamil karena masih terdapat resiko lain yakni kadar merkuri yang tinggi pada beberapa jenis ikan (seperti tuna).

Yang bisa kita lakukan adalah, menjaga makan kita dari konsumsi ikan yang mengandung merkuri berlebih. Ada banyak pilihan ikan lain yang masih aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Hindari makan tuna lebih dari 6 ons dalam seminggu atau jangan lebih dari 12 ons untuk seafood yang mengandung merkuri rendah seperti ikan sarden, catfish, salmon dan udang.

7. Khawatir tak bisa menyusui.

Fakta, kita sering mendengar cerita betapa sulitnya menyusui bayi. Faktanya, sebagian besar ibu berhasil menyusui bayinya dengan penuh kesabaran dengan bantuan dan dukungan dari lingkungan.

Umumnya ibu merasa bisa langsung cocok dengan bayinya untuk menyusui tanpa memerlukan usaha keras. Sebagian kecil lainnya khawatir tidak bisa menyusui karena merasa memiliki masalah menyusui yang tidak bisa diatasi.

Sebenarnya, masalah menyusui bisa diatasi kalau kita mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan. Belajar dari buku atau minta bantuan konselor menyusui untuk membantu kita agar bisa menyusui lebih baik akan sangat membantu.

Biasanya dibutuhkan waktu 2 sampai 3 minggu setelah bayi lahir sampai tubuh ibu bisa menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi.

Yang bisa kita lakukan adalah, belajar dari ibu lainnya sebelum bayi lahir, belajar dari buku dan banyak bertanya. Kita juga bisa mengikuti kelas ibu menyusui dan mendapatkan bimbingan dari konselor menyusui.

Masalah menyusui seperti nyeri menyusui kadang membuat ibu trauma untuk memberikan ASI bayinya padahal nyeri menyusui ini terjadi karena latch-on (perlekatan puting) saat menyusui yang salah. Menyusui seharusnya menyenangkan dan tidak menyakitkan. Apabila mengalami nyeri saat menyusui artinya ada yang salah dengan cara kita memberikan ASI.

Kekhawatiran ibu lainnya adalah, takut ASI tidak cukup atau takut bayi kurang mendapatkan ASI padahal bayi sebenarnya tidak akan membutuhkan ASI yang banyak dalam sehari (terutama bayi baru lahir).

Kita juga kadang khawatir ASI tidak cukup lagi setelah beberapa lama memberikan ASI padahal pada saat itu, produksi ASI kita sudah lebih bisa beradaptasi dengan hanya diproduksi saat bayi menyusui.

ASI sangat baik untuk bayi sehingga akan rugi kalau kita menyerah hanya karena kita tidak sabar atau tidak mau belajar sedikit tentang cara memberikan ASI yang baik.

8. Takut berat badan tidak turun setelah melahirkan.

Faktanya, berat badan berlebih yang sulit turun setelah persalinan memang hal yang umum, tapi ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan berat badan kembali normal pasca persalinan.

Kitapun sebenarnya harus hati-hati diet pasca persalinan karena masih ada bayi yang membutuhkan ASI kita. Setelah persalinan, kita bisa mulai olahraga dari yang ringan dan ditingkatkan secara bertahap setelah kita pulih pasca persalinan.

Yang bisa dilakukan, jaga berat badan saat hamil kenaikannya tetap normal sesuai yang direkomendasikan. Setelah persalinan, menurunkannya tentu akan lebih mudah. Konsumsi makanan yang sehat, hindari makanan yang tinggi lemak, gula, gorengan dan fast food. Konsumsilah banyak buah dan sayuran.

9. Khawatir karena kerja berat.

Fakta, pekerjaan berat yang kita lakukan seperti mengangkat barang berat atau berdiri dalam waktu yang lama tidak ditemukan hubungan langsungnya dengan kejadian bayi lahir prematur.

Yang bisa kita lakukan adalah, hindari melakukan pekerjaan berat atau ambil waktu untuk istirahat atau duduk sejenak. Minta ke bos kita untuk diberikan pekerjaan yang lebih ringan selama hamil.

10. Khawatir tidak bisa ke rumah sakit tepat waktu saat akan melahirkan (khawatir melahirkan di perjalanan).

Fakta, kita mungkin sering mendengat ibu melahirkan di perjalanan, taksi atau terlambat ke rumah sakit. Ini adalah hal yang kadang terjadi tapi jarang.

Persalinan melibatkan proses panjang yang tidak serta merta saat kontraksi muncul bayi akan tiba-tiba lahir. Ada tanda-tanda sebelum persalinan yang akan membuat kita sadar bahwa persalinan sudah dekat.

Pada ibu yang pertama kali malahirkan, proses persalinan fase 1 atau biasa kita sebut dengan fase pembukaan biasanya terjadi berjam-jam, mulai dari pembukaan serviks (mulut rahim) dari 1 cm menjadi 10 cm (pembukaan sempurna) itu membutuhkan waktu biasanya 6 jam, itu baru fase 1, belum fase 2 yang membutuhkan usaha keras untuk mengejan. Pada persalinan anak kedua lama fase 1 ini biasanya berlangsung 2-10 jam.

Yang bisa kita lakukan adalah, persiapkan persalinan jauh hari sebelum hari perkiraan taksiran persalinan. Siapkan kendaraan dan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit sebelumnya. Apabila ketuban pecah, segera ke rumah sakit, perlengkapan yang sudah disiapkan bisa menyusul kemudian (dibawa oleh anggota keluarga lain).

Pada persalinan anak ke 3 dan seterusnya fase pembukaan bisa lebih cepat sehingga kita harus cepat ke rumah sakit apabila tanda-tanda melahirkan sudah muncul.

Jika sebelumnya pernah melahirkan dengan cepat, kita harus ke rumah sakit lebih cepat termasuk apabila kita tinggal jauh dari rumah sakit.

Nah, itulah beberapa kekhawatiran atau kecemasan ibu hamil beserta fakta dan cara mengatasinya. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

Apa yang menjadi kecemasan utama Bunda? Adakah salah satu di atas? Silahkan share di kolom komentar di bawah.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.