Bolehkah Ibu Hamil Cabut Gigi? Apa Resiko Dan Bahayanya?

Bolehkah Ibu Hamil Cabut Gigi? Apa Resiko Dan Bahayanya?

Ibu Fenty sudah semingguan ini mengeluhkan giginya sakit, gigi yang sama yang pernah dia keluhkan sakit tapi pada saat itu masih dapat sembuh dengan minum obat anti sakit. Saat ini dia sedang hamil 4 bulan.

Dia berpikir untuk mencabut giginya itu. Apakah gigi yang sudah goyang boleh dicabut? Apakah prosedur pencabutan gigi aman dilakukan di tiap trimester kehamilan? Apa alternatif pengobatannya kalau tidak boleh dicabut?

Sebelumnya perlu diketahui bahwa pada beberapa ibu, kondisi kehamilan dapat meningkatkan resiko terjadinya masalah gigi seperti gusi bengkak dan gigi berlubang. Hormon yang meningkat saat hamil menyebabkan perubahan respon tubuh terhadap plak gigi (lapisan gigi yang lengket dan mengandung bakteri).

Meski demikian, sepanjang Moms menjaga kebersihan dan higiene mulut (gigi dan gusi), rutin memeriksakan diri ke dokter gigi, tidak ada yang perlu Moms khawatirkan.

Nah, bagaimana ketika terjadi masalah seperti yang dialami ibu Fenty di atas?

Mencabut gigi yang berlubang atau goyang saat hamil.

Jadi, apakah boleh cabut gigi saat hamil? Ya, boleh. Tapi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.

Kapan boleh cabut gigi semasa hamil?

Ada beberapa hal yang dipertimbangkan dilakukannya pencabutan gigi pada ibu hamil untuk mencegah bahaya yang timbul dari prosedur ini bagi janin atau bayi dalam kandungan.

Apabila gigi atau gusi mengalami infeksi yang sangat berat, sulit untuk disembuhkan atau diperbaiki dan dikhawatirkan infeksi menyebar yang semakin memperburuk keadaan ibu dan mengancam janin, pencabutan gigi dapat dilakukan.

Gusi selama kehamilan menjadi lebih sensitif karena adanya perubahan hormonal. Gusi dapat menjadi bengkak, meradang atau berdarah. Hal ini akan diperparah bila sebelumnya sudah ada pengumpulan plak dan karang gigi yang selama ini tidak ditangani.

Gejala atau tanda gigi bisa dicabut:

  • Nyeri tiba-tiba pada gigi atau gusi.
  • Gusi bengkak dan merah, bisa disertai dengan pus atau nanah.
  • Gigi berlubang pada gigi yang sakit.
  • Gusi berdarah.
  • Sulit menguyah makanan.
  • Sulit berbicara karena nyeri dan bengkak pada gusi/gigi.

Selain tanda di atas, sebelum dilakukan ekstraksi gigi, usia kehamilan atau trimester kehamilan jadi pertimbangan dokter gigi.

Sebelumnya dokter gigi mungkin akan memerlukan persetujuan dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG) apakah ibu hamil memiliki komplikasi atau penyulit lain yang bisa menjadi pertimbangan dokter gigi, seperti ibu hamil memiliki hipertensi, diabetes, dll.

Cabut gigi di trimester pertama. Usia kehamilan 1, 2 dan 3 bulan.

Di trimester 1 kehamilan terjadi pembentukan organ janin. Masa ini adalah masa yang sangat krusial dimana janin sangat rentan mengalami malformasi (cacat). Stres dan tindakan mencabut gigi bisa saja memicu ini sehingga pada masa-masa awal kehamilan, pencabutan gigi akan ditunda ke bulan berikutnya (trimester dua).

Cabut gigi di trimester dua.

Usia kehamilan 4, 5 dan 6 bulan. Pada masa ini janin sudah mulai bertumbuh sehingga cukup aman jika dilakukan ekstraksi gigi. Termasuk apabila ingin dilakukan tindakan gigi lainnya seperti tambal gigi.

Cabut gigi di trimester tiga.

Usia kehamilan 7, 8 dan 9 bulan. Di akhir-akhir masa kehamilan menjelang kelahiran, dokter biasanya akan menunda tindakan pencabutan gigi. Saat hamil tua, ibu hamil kemungkinan sulit untuk mencari posisi duduk yang baik dalam waktu yang lama di kursi dental. Resiko terjadinya perdarahan juga tinggi dan bisa berbahaya jika dilakukan tindakan pencabutan gigi.

Jika memang harus dilakukan pencabutan, sebaiknya dilakukan di masa awal trimester 3 kehamilan (6-7 bulan).

Bius lokal atau anestesi saat pencabutan gigi.

Saat dilakukan pencabutan gigi, agar tidak merasakan nyeri saat gigi dicabut dan ibu merasa nyaman akan disuntikkan lidokain ke daerah yang akan dicabut giginya. Obat anestesi ini bersifat lokal dan aman untuk ibu dan janin/bayi.

Setelah mengalami tindakan, sisa kebas pada gigi atau mulut akan masih terasa dalam beberapa menit sampai jam sehingga Anda mungkin akan sulit berbicara sementara waktu sampai efek bius hilang.

Setelah dilakukan ekstraksi gigi, biasanya akan diberikan obat seperti parasetamol untuk mengurangi nyeri dan antibiotik seperti amoksisilin untuk profilaksis infeksi. Semua obat ini aman diminum oleh ibu hamil.

Bagaimana dengan perawatan dan tindakan gigi lainnya?

Tindakan gigi rutin lainnya seperti tambal gigi berlubang (crown gigi), membersihkan karang gigi (scaling) tetap bisa dilakukan dengan tujuan utama untuk mencegah bengkak dan infeksi. Saat tambal gigi, sampaikan ke dokter gigi jika Moms hamil sehingga dokternya bisa memberikan bahan tambal yang aman untuk kehamilan.

Tindakan gigi saat hamil sebaiknya dilakukan pada trimester kedua kehamilan karena jika dilakukan pada trimester 3 ibu dapat kesulitan berbaring dalam waktu yang lama di kursi dental.

Tindakan ringan lainnya yang bertujuan untuk kosmetik seperti memutihkan gigi/teeth whitening bisa ditunda.

Pilihan paling aman adalah, menunda segala tindakan gigi sampai setelah melahirkan. Kecuali tindakan darurat yang benar-benar perlu seperti cabut gigi, perawatan saluran akar gigi. Ini untuk mengurangi resiko sekecil apapun yang bisa mempengaruhi perkembangan janin dalam rahim.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.