Kehamilan dan Puasa di Bulan Suci Ramadan

Kehamilan dan Puasa di Bulan Suci Ramadan

Memasuki bulan suci ramadan, moms yang beragama Islam yang saat ini sedang hamil atau berencana ingin hamil mungkin bertanya-tanya, apakah boleh tetap berpuasa di bulan ramadan. Melalui penjelasan di bawah ini mudah-mudahan bisa menjawab berbagai hal yang berkaitan dengan masalah ini.

Apakah boleh berpuasa saat sedang hamil?

Banyak kekhawatiran terkait masalah ini. Ada yang melarang ibu hamil untuk puasa karena takut plasenta kecil, khawatir bayi lahir dengan berat badan rendah dan lain-lain. Selain itu, saat berpuasa ibu hamil rentan untuk mengalami dihidrasi terutama di musim panas yang dapat berpengaruh terhadap ginjal dan kesehatan janin.

Meski demikian, secara umum tidak ditemukan adanya perbedaan antara bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa dengan bayi yang lahir dari ibu yang tak berpuasa. Puasa hanya berefek ke kehamilan ketika ada faktor lain yang berkaitan dengan kesehatan ibu secara umum dan tahap (trimester) kehamilan saat ibu puasa.

Hasil Penelitian.

Pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui efek dari puasa saat hamil di salah satu rumah sakit di Teheran tahun 2004. Ada 189 wanita hamil yang diteliti, bumil ini dikelompokkan dalam 4 kelompok: kelompok yang tidak puasa, kelompok puasa 1-10 hari, puasa 11-20 hari dan kelompok puasa 21-30 hari.

Umur rata-rata kelompok ini adalah 25.9 tahun, berat rata-rata 61.7 kg, rata-rata indeks massa tubuh (IMT atau BMI) adalah 23.9 kg/m2. Lamanya puasa rata-rata adalah 13 hari dengan 66 ibu atau 34.9% yang tidak puasa. Ditemukan, tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap besarnya IMT di antara kelompok tersebut di awal masa kehamilan.

Dari pemeriksaan USG, ditemukan tidak ada perbedaan rata-rata berat, tinggi dan lingkar kepala janin di antara kelompok ibu berdasarkan berapa hari ibu menjalankan berpuasa. Bahkan tidak ada perbedaan besar antara berbagai parameter tersebut terhadap perbedaan usia kehamilan (usia trimester).

Kesimpulan.

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan termasuk yang disebutkan di atas ditemukan bahwa ibu hamil sepanjang ia sehat, cukup nutrisinya, puasa seperti yang dituntunkan oleh ajaran Islam tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan janin dalam rahim dan kelahiran bayi.

Tidak pula ditemukan adanya cacat bawaan pada bayi yang lahir dari ibu yang puasa pada penelitian tersebut.

Meski demikian, ibu hamil yang berpuasa di trimester pertama memiliki resiko kecil sekitar 1.5 kali untuk memiliki bayi yang lahir dengan berat badan rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak puasa.

Kesimpulannya, ibu hamil boleh dan aman berpuasa saat ramadan dengan tetap menjaga kesehatan secara umum dan menjaga kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Bagaimana pandangan agama mengenai kewajiban puasa ini bagi ibu hamil? Ikuti penjelasannya di bawah:

Apakah ibu hamil wajib puasa saat ramadhan?

Puasa bagi umat Islam adalah kewajiban. Walaupun demikian, agama memberikan kemudahan untuk boleh meninggalkannya pada keadaan tertentu misalnya sakit dimana menahan makan dan minum dapat berbahaya.

Islam membolehkan ibu hamil atau ibu yang menyusui untuk tidak menjalankan puasa apabila khawatir puasanya dapat mempengaruhi kesehatannya atau dapat berbahaya bagi bayinya. Pada ibu tertentu beban kehamilan bisa sangat berat sehingga melakukan puasa dapat berbahaya, misalnya kehamilan disertai dengan faktor resiko seperti: mual muntah berlebihan (morning sickness/hiperemesis gravidarum, biasa di trimester pertama), kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia, dll.

Ibu yang tidak puasa dapat mengganti puasanya tersebut dengan membayar fidyah, yakni memberi makan kepada orang miskin sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya. Makanan yang diberikan tersebut minimal harus setara dengan makanan yang biasa dimakan setiap hari.

Yang kita lihat, tak sedikit ibu yang sementara hamil tapi tetap menjalankan ibadah puasa. Ini adalah keputusan masing-masing dan bersifat personal. Setiap ibu memiliki keadaan yang berbeda-beda mulai dari usia kehamilan, apa yang dirasakan saat mengalami keadaan tertentu termasuk misalnya menjalankan puasa bertepatan dengan musim panas yang tentu puasa menjadi lebih berat atau tinggal di negara di mana lama puasanya berlangsung 20 jam, seperti di Rusia puasanya bisa berlangsung sampai 20 jam 45 menit. Bandingkan dengan di Indonesia yang hanya menahan selama kurang lebih 14 jam, wow..

Saat kontrol kehamilan, Moms bisa berkonsultasi dengan bidan atau dokter kandungan mengenai keadaan kehamilan Moms dan meminta saran apakah memungkinkan untuk berpuasa atau tidak.

Tentu saja, hal terpenting dari semua itu adalah ibu sendirilah yang paling mengetahui keadaannya apakah memungkinkan untuk berpuasa atau tidak.

Bagaimana kalau saya ingin puasa saat hamil?

Baiklah, agama tidak mengharuskan tapi alangkah sayangnya melewati bulan ramadan tanpa puasa. Lagi pula, puasa saat hamil tidak terbukti berbahaya asal ibu bisa menjaga kesehatannya secara umum. Bagaimana kalau Moms ingin tetap puasa, apa yang harus diperhatikan agar puasanya bisa lancar dan kesehatan janin terjaga?

Perlu diperhatikan, puasa pada orang normal sekali pun cukuplah melelahkan. Puasa menuntut lebih dari tubuh akan terpenuhinya segala kebutuhan nutrisi dan cairan. Moms yang berpuasa mungkin tidak akan full puasanya sebulan penuh. Ada hari dimana Moms tidak berpuasa tapi di hari lainnya Moms tetap bisa berpuasa dengan lebih mudah. Tak perlu menambah stres karena beban kehamilan sudah cukup berat.

Pastikan semuanya bisa kita kendalikan. Moms yang hamil dan sehat yang mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga di rumah mungkin bisa mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain, tugas cuci pakaian diserahkan ke laundry, makanan dipesan di luar (delivery order), membagi tugas rumah dengan suami. Kesehatan Moms dan janin adalah yang utama.

BACA JUGA: Operasi Caesar, Saat Melahirkan Normal Tidak Memungkinkan

Hati-hati mengalami dehidrasi.

Tanda-tanda ibu mengalami dehidrasi adalah:

  • Urin menjadi pekat, karena cairan yang harus dikeluarkan dari tubuh berkurang urin menjadi berwarna lebih gelap. Ini adalah tanda awal dari gejala dehidrasi.
  • Jarang buang air kecil (frekuensi kencing berkurang), urin sedikit.
  • Pusing, penglihatan kabur.
  • Sakit kepala.
  • Merasa lelah berlebih.
  • Bibir dan mulut kering.

Jika saat berpuasa Moms mengalami beberapa hal di atas dan setelah berbaring beberapa saat tapi tidak hilang atau berkurang maka segera batalkan puasa dan:

  • minum air yang manis (bisa teh manis) agar kehilangan cairan dan gula darah cepat terganti.
  • makan makanan ringan atau snack yang mengandung garam (asin) untuk mengganti kehilangan garam.

Untuk menjaga agar kebutuhan cairan tubuh tetap terjaga saat puasa:

  • minumlah air yang cukup, 1 sampai 2 gelas per hari lebih banyak dari hari biasanya sebelum hamil.
  • makanlah makanan yang banyak mengandung air seperti sup, sayur dan buah terutama saat sahur dan buka puasa.
  • hindari makan makanan yang banyak mengandung garam saat sahur karena makanan ini bisa membuat ibu merasa lebih haus.
  • hindari beraktivitas di bawah terik matahari, coba berlindung di tempat yang teduh saat berada di luar.
  • hindari melakukan aktivitas yang berat.
  • minumlah air yang banyak saat berbuka.

Jangan lupa untuk tetap mengonsumsi vitamin dan suplemen seperti vitamin D dan asam folat selain makan makanan yang seimbang gizinya. Perbanyak makan makanan yang dapat melepaskan energi dengan lambat, makanan dengan indeks glikemik yang rendah saat sahur seperti kacang tanpa garam, pasta, mie, oat, roti gandum dan sereal.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.