Ingin Sukses Menyusui, ASI Berlimpah Setiap Saat? Ketahui Hal-hal Ini

Ingin Sukses Menyusui, ASI Berlimpah Setiap Saat? Ketahui Hal-hal Ini

Semua ibu pasti ingin sukses menyusui, ingin suplai asinya berlimpah, ingin asinya tersedia sejak saat bayi lahir hingga setidaknya bayi berusia 6 bulan ketika ia mulai makan makanan padat pertamanya.

Masalah menyusui adalah masalah yang sering menjadi momok bagi ibu yang memberikan asi bayinya. Diskusi mengenai topik asi dan ibu menyusui ramai menghiasi diskusi-diskusi di grup facebook maupun forum-forum ibu dan bayi.

Bagaimana tidak, ibu yang menyusui mengandalkan asi sebagai sumber makanan dan minuman bayi satu-satunya sehingga ketika menghadapi masalah, ibu pasti akan khawatir. Berita baiknya adalah, solusi untuk masalah ini sudah tersedia, tinggal kesediaan kita untuk mau tahu dan belajar.

Dan tahukah mom, hanya sebagian kecil, sekitar 15 persen, dalam minggu-minggu pertama pasca melahirkan, ibu yang akan mengalami masalah suplai asi yang kurang.

Masalah ibu menyusui, meningkatkan suplai asi dan cara menilai bayi asinya cukup atau tidak.

Melalui tulisan ini mudah-mudahan ibu mendapat gambaran besar seluk-beluk menyusui, membantu ibu menjadi lebih tenang, optimis dan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya terkait menyusui.

Suplai ASI.

– Prinsip supply dan demand (ketersediaan dan permintaan).

Produksi/suplai asi tergantung dari permintaan. Semakin sering bayi menyusui berarti semakin banyak asi yang diproduksi, begitupun sebaliknya.

Pasca melahirkan, asi moms mungkin akan berlimpah, produksinya berlebihan dari yang dibutuhkan bayi. Tubuh ibu akan menyesuaikan dan memproduksi asi hanya sejumlah yang dibutuhkan bayi.

Saat bayi sudah rutin menyusui, ibu mungkin akan merasakan payudaranya agak kempes, terasa seperti kosong atau asinya kurang setiap selesai menyusui. Ibu tidak perlu khawatir, itu tandanya produksi asi sudah mulai terjaga dan tubuh sudah tahu seberapa banyak asi yang diproduksi.

Saat terjadi growth spurt, dimana konsumsi asi bayi meningkat ibu tidak perlu khawatir karena tubuh akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Beginilah pengaturan suplai asi yang disesuaikan dengan kebutuhan (demand).

– Tanda bayi minum asi.

Bayi tidak bisa mengungkapkan kalau dia sudah kenyang tapi kita bisa mengetahui tandanya kalau dia mendapatkan asi. Saat bayi minum (menyusu), kita bisa melihat gerakan rahangnya dan mendengar suaranya menelan.

Setelah menyusui kita juga bisa merasakan payudara yang kosong, bayi terlihat puas setiap selesai menyusu, tertidur pulas atau bahkan tertidur saat sementara disusui.

– Secara teratur menimbang bayi, kontrol ke dokter anak.

Untuk tahu apakah berat badan bayi naik, kenaikan beratnya signifikan dan sesuai dengan usianya, bayi harus rutin ditimbang. Biasanya saat memeriksakan ke dokter atau saat imunisasi bayi akan ditimbang.

Di puskesmas atau rumah sakit bayi biasanya diberikan growth chart (grafik pertumbuhan) untuk menilai kenaikan berat badannya apakah normal atau tidak. Jika naik artinya makanan yang masuk ke bayi (asi) cukup.

Jika turun artinya ada yang salah dengan pemberian asi kita. Diskusikan dengan dokter mengenai apa yang bisa dilakukan. Apakah memperbaiki cara menyusuinya, apakah asinya kurang sehingga perlu bantuan pemberian makanan tambahan atau susu formula.

Tanda-tanda bayi makannya cukup adalah:

  1. Sering ganti popok, 8 sampai 12 popok setiap hari.
  2. Buang air 2 sampai 4 kali sehari.
  3. Telihat puas setiap selesai menyusui.
  4. Berat badannya naik setengah sampai 1 ons setiap hari.

– Diet bergizi dan seimbang, cukup cairan.

Menyusui akan memerlukan banyak energi. Ibu diminta untuk menjaga makannya tetap seimbang dan kaya dengan zat gizi. Ini terutama untuk menjaga stamina ibu dan menyediakan segala nutrisi yang dibutuhkan bayi secara optimal.

Ibu bisa minum atau menikmati cemilan saat menyusui buah hati.

– Produksi asi tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya payudara.

Besar kecilnya payudara dipengaruhi oleh jaringan lemak yang membentuk payudara. ASI sendiri diproduksi oleh kelenjar payudara. Oleh karena itu, ibu dengan payudara besar tidak serta merta berarti asinya banyak dibandingkan ibu yang payudaranya kecil.

Memang beberapa ibu memiliki penampungan asi yang lebih besar daripada ibu lainnya, tergantung banyaknya jaringan granular di payudaranya sehingga bayi bisa minum lebih banyak asi dibandingkan ibu yang penampungan asinya lebih sedikit.

Tapi jangan khawatir, ibu tetap bisa memberikan nutrisi yang sama ke bayi. Hanya frekuensi menyusuinya mungkin akan lebih sering dibandingkan ibu lainnya. Payudara juga harus lebih sering dikosongkan agar suplai asi tidak berkurang.

– Produksi asi bisa berbeda antara payudara kiri dan kanan.

Perbedaan jumlah asi payudara kiri dan payudara kanan adalah hal yang wajar. Umumnya wanita memang memiliki asi yang produksinya berbeda antara payudara kiri dan kanan, apalagi kalau sebelumnya pernah menjalani operasi payudara, misalnya karena tumor payudara (FAM), pernah dilakukan biopsi pada salah satu payudara atau implan.

Di fase awal menyusui, pasca bayi lahir, beberapa bayi biasanya akan menyusu hanya dari satu payudara sehingga payudara lainnya jarang digunakan, produksi asinya tidak sebanyak payudara lainnya.

Untuk mengurangi perbedaan suplai asi antara payudara kanan dan kiri disarankan untuk:

  1. Di masa awal menyusui, susui bayi dengan kedua payudara secara bergantian.
  2. Setelah menyusui, di antara waktu menyusui sempatkan untuk memompa asi terutama di payudara yang produksi asinya lebih sedikit sehingga tubuh akan menyesuaikan untuk memproduksi asi yang lebih banyak pada payudara tersebut.

– Tingkatkan produksi asi apabila diperlukan.

Pada keadaan tertentu produksi asi benar-benar kurang sehingga ibu perlu menambah produksinya agar kebutuhan bayi tercukupi.

Ini bisa kita lihat apabila bayi tampak tidak kenyang/puas setiap selesai menyusui, berat badannya tidak naik signifikan sesuai yang direkomendasikan.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memboost (meningkatkan) produksi asi adalah dengan:

  1. Lebih sering menyusui, setiap menyusui berusaha untuk mengosongkan kedua payudara.
  2. Rutin memompa asi di antara waktu menyusui.
  3. Konsumsi obat tradisional atau herbal yang diketahui terbukti dapat meningkatkan produksi asi seperti daun pepaya, daun katuk dan buah pare.
  4. Konsumsi obat resep (dari dokter) seperti domperidon.

Hal-hal yang bisa menyebabkan produksi asi berkurang drastis.

Kadang ibu tidak menyadari melakukan hal yang justru mengurangi produksi asinya.

– Menunda pemberian asi bayi.

Produksi asi mungkin baik (banyak, awalnya) tapi karena asi tidak dikeluarkan, bisa karena bayi jarang disusui atau pemberian asinya ditunda karena bayi tertidur, maka tubuh akan mengirim sinyal ke pusat pengatur asi untuk mengurangi atau stop produksi asi karena (mengira) kebutuhan asi hanya sedikit.

BACA JUGA: Bolehkah Ibu Menyusui Minum Kopi? Benarkah Minum Kopi ASI Jadi Berkurang?

Bayi di minggu-minggu pertama pasca lahir harus disusui paling tidak setiap 2 sampai 3 jam. Jika bayi tidur sampai 4 jam di siang hari ia harus dibangunkan untuk minum susu. Ibu bisa memberikan asi lebih sering di siang hari sehingga waktu malamnya dia bisa tidur lebih panjang tanpa menyusu dan ibu tidur malamnya tidak terganggu (lebih lama).

– Khawatir-berlebih dan stres.

Ya, keadaan psikologi kita mempengaruhi hormon dan hormon berpengaruh terhadap produksi asi. Khawatir dan cemas bisa mempengaruhi produksi asi moms.

Boleh khawatir tapi khawatir yang berlebihan dan tidak beralasan tidak ada manfaatnya buat kita. Fokuslah kepada hal-hal positif dan bukan ke hal yang negatif, tetap rileks dan hadapi setiap masalah dengan pendekatan untuk mencari solusi, bukan mencari masalah baru, menyalahkan keadaan dan lain sebagainya.

– Perlekatan yang salah.

Hal ini simpel tapi sangat berpengaruh terhadap produksi asi. Jika perlekatan bayi dan puting yang salah, payudara akan mendapatkan stimulasi yang salah, produksi asi tidak akan maksimal.

– Bayi prematur.

Bayi prematur masih lemah sehingga tidak kuat mengisap saat menyusu, selain itu ia gampang lelah sehingga pengosongan payudara mungkin tidak seefektif bayi yang lahir cukup bulan.

– Masalah kesehatan.

Tidak bisa dipungkiri tidak semua ibu bisa menghasilkan asi yang cukup. Ada banyak masalah yang bisa menyebabkan ini seperti operasi payudara, masalah hormonal, gangguan jaringan asi, masalah tiroid dan masalah lainnya (perdarahan saat melahirkan, tekanan darah tinggi, dll).

– Masalah lingkungan.

Ibu yang tinggal di lingkungan dengan polusi udara yang tinggi, terpapar dengan bahan kimia (pestisida) kemungkinan mengalami gangguan hormonal yang bisa mempengaruhi produksi hormonnya.

– Adanya masalah fertilitas.

Ibu mungkin tetap bisa hamil dengan intervensi medis tapi tidak selamanya ibu memiliki sistem produksi asi yang baik (fungsional) sehingga tidak memungkinkannya memproduksi asi.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.