Melahirkan Dengan Cara Induksi Juga Spesial. Ini Yang Perlu Ibu Tahu

Melahirkan Dengan Cara Induksi Juga Spesial. Ini Yang Perlu Ibu Tahu

Semua ibu pasti ingin memiliki pengalaman melahirkan yang mudah dan menyenangkan. Ingin persalinannya lancar, terjadi secara alami. Ingin sesaat setelah masuk kamar bersalin, kontraksinya langsung intens, terjadi pembukaan, mengejan sebentar lalu bayi lahir.

Ibu yang sebelumnya dipersiapkan melahirkan normal bisa saja akhirnya melahirkan dengan cara sesar atau perlu melalui proses induksi dulu, yaitu persalinan yang dibantu dengan penggunaan obat untuk mempercepat proses persalinan.

Seperti halnya persalinan dengan operasi sesar, persalinan dengan induksi bisa saja terjadi pada mom. Ada baiknya kita siap dengan semua itu sehingga kita makin percaya diri menghadapi persalinan dan tahu apa yang akan dihadapi saat mengalaminya.

Berdasarkan pengalaman kami, persalinan yang dibantu dengan induksi cukup sering terjadi di rumah sakit sehingga tulisan ini akan sangat bermanfaat bagi moms.

Di artikel ini mom akan belajar apa itu persalinan dengan induksi dan alasan dilakukannya induksi, alasan medis dan nonmedisnya serta resikonya bagi ibu dan bayi.

Perbedaan persalinan yang dipercepat atau diinduksi dan persalinan normal.

Persalinan yang berlangsung secara normal, terjadi secara spontan dipicu oleh pengeluaran hormon oksitosin oleh ibu dan bayi. Pengeluaran hormon ini akan memicu terjadinya persalinan berupa kontraksi yang dirasakan kram dan terjadi terus-menerus dan semakin lama semakin intens. Keadaan ini juga akan memicu terjadinya penipisan dan pelunakan bibir rahim (serviks).

Nah, induksi persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan adalah untuk memulai atau mempercepat terjadinya proses ini.

Tahapan atau fase yang harus dilewati oleh ibu baik persalinan normal maupun persalinan yang diinduksi umumnya sama. Kontraksi atau kram yang dirasakan juga hampir sama (bahkan tidak ada bedanya).

Tidak semua ibu yang melahirkan akan membutuhkan induksi. Persalinan umumnya akan terjadi secara spontan dan tanpa bantuan tapi karena beberapa hal, yang akan dijelaskan di bawah, beberapa persalinan akan membutuhkan induksi.

BACA JUGA: Tanda-tanda Dan Gejala Yang Ibu Rasakan Saat Akan Melahirkan

Di negara seperti Amerika, diketahui kalau persalinan yang diinduksi kini semakin sering terjadi (hampir 40 persen) dan berdasarkan penelitian terbaru, persalinan yang diinduksi di kehamilan 39 minggu menunjukkan hasil yang baik terhadap kesehatan ibu dan bayi dibandingkan dengan persalinan yang dibiarkan terjadi spontan (menunggu).

Meskipun ini masih bisa diperdebatkan, dan adanya beberapa perbedaan dengan negara kita, ini menunjukkan kalau induksi persalinan adalah praktek yang biasa dilakukan dan wajar.

Benarkah persalinan dengan induksi lebih sakit daripada persalinan normal?

Sebenarnya ini tergantung ibu masing-masing. Ada yang mengatakan lebih nyeri tapi ada juga yang mengatakan sama saja sakitnya antara persalinan normal dan persalinan yang diinduksi.

Hanya memang, dengan induksi kontraksi rahim akan dipicu atau dibantu dengan obat sehingga kadang ibu merasakan kontraksi atau sakit yang lebih. Tapi kembali lagi ke ibu masing-masing.

Dengan persiapan yang baik, mengetahui bagaimana cara bernapas dan mengejan yang baik, melahirkan dengan cara induksi bisa saja dijalani dengan nyeri yang minim. Apalagi setelah melihat buah hati lahir, semua rasa sakit itu akan hilang.

Kenapa ibu melahirkan perlu diinduksi persalinannya?

Seperti sering kami sebutkan di tulisan-tulisan lainnya bahwa setiap kehamilan dan persalinan itu spesial. Kita tidak bisa membanding-bandingkan antara satu ibu dengan ibu lainnya.

Demikian pula, antara persalinan yang normal dengan persalinan caesar, termasuk persalinan dengan induksi, semuanya spesial. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang patut kita syukuri.

Melahirkan sesar tidak lebih menyenangkan dari persalinan dengan cara normal, begitu pun persalinan normal tidak lebih membanggakan dibandingkan dengan persalinan dengan cara caesar atau induksi.

Kadang ada ibu yang terlalu ‘idealis’ dan tidak ingin melahirkan dengan cara dibantu, tidak ingin induksi atau caesar. Katanya ini akan mengurangi kodratnya sebagai ibu atau akan mengurangi pengalamannya dalam hal bersalin.

BACA JUGA: Operasi Caesar Itu Seperti Apa?

Padahal, induksi sebenarnya hampir sama dengan persalinan biasa. Lagipula induksi persalinan dan caesar dilakukan tidak lain untuk kebaikan ibu dan bayi.

Keputusan untuk melakukan induksi atau tidak biasanya berada di tangan dokter, tapi apabila moms memutuskan untuk menjalani persalinan dengan induksi, moms boleh meminta dan membicarakannya dengan dokter.

Keadaan berikut di bawah ini biasanya menjadi penyebab dilakukannya induksi persalinan:

1. Kehamilan sudah lewat dari HPL 1 sampai 2 minggu.

Setelah dilakukan pemeriksaan USG ternyata ditemukan adanya pertumbuhan janin dalam kandungan yang terganggu (distress) sehingga akan lebih baik apabila bayi dilahirkan lebih cepat.

2. Keadaan khusus pada ibu.

Seperti ibu hamil yang disertai dengan tekanan darah yang tinggi, preeklampsia, gula darah yang tak terkontrol (diabetes). Dengan induksi persalinan resiko persalinan yang lebih berat bisa dihindari.

Persalinan sendiri dalam keadaan normal mengandung resiko yang cukup besar untuk ibu dan bayi. Kita tidak ingin keadaan tersebut semakin mempersulit persalinan. Karenanya, persalinan akan diupayakan terjadi secepat mungkin.

3. Usia kehamilan lebih dari 41 minggu atau bahkan melewati usia 42 minggu.

Di usia kehamilan ini bayi sudah akan lebih besar dan persalinan bisa menjadi lebih lama dan sulit yang bisa menyebabkan komplikasi.

Bayi yang besar akan sulit melewati jalan lahir, resiko untuk terjadinya cedera bahu pada bayi dan resiko robekan jalan lahir (robek vagina sampai anus).

Bagaimana dokter melakukan induksi persalinan?

Ada beberapa cara untuk induksi persalinan. Dokter biasanya akan menghitung ulang, untuk konfirmasi, usia kehamilan moms, melakukan serangkaian pemeriksaan, pemeriksaan dalam (vagina) termasuk pemeriksaan USG.

Pemilihan metode induksi didasarkan pada keadaan ibu dan janin yang akan dilahirkan. Akan dinilai bagaimana keadaan serviks dan kesehatan janin.

BACA JUGA: Melahirkan Normal Setelah Melahirkan Caesar Sebelumnya

Kita tidak tahu bagaimana ibu dan janin akan bereaksi dengan induksi sampai induksi tersebut diberikan. Setelah induksi, ada ibu yang akan melahirkan dengan cepat dan lancar dan ada pula yang persalinannya berakhir lama (prolonged labor) atau mungkin.. akhirnya didorong ke kamar operasi dan melahirkan dengan sesar.

Mungkin ada yang bertanya, kalau persalinan dengan induksi tidak menjamin persalinan menjadi lebih cepat lalu kenapa induksi dilakukan?

Ibu yang persalinannya berlangsung lama setelah induksi bukan berarti persalinannya ‘jadi lebih lama’ dibandingkan bila persalinannya dilakukan tanpa induksi.

Selain itu, induksi tidak selamanya berarti mempercepat proses persalinan tapi bisa juga berarti mempercepat terjadinya (dimulainya) persalinan.

Ibu yang persalinannya lama setelah induksi bisa saja persalinannya akan lebih lama apabila tidak mendapatkan induksi.

Induksi adalah metode yang dipakai sejak lama dan terbukti efektif untuk mempercepat persalinan, mengurangi resiko yang mungkin dihadapi apabila persalinan dibiarkan berlangsung normal sehingga jadi pilihan terbaik apabila persalinan disertai dengan keadaan seperti yang disebutkan di atas.

Ada beberapa macam induksi yang digunakan, baik menggunakan alat ataupun obat, dilakukan pada jalan lahir yang sudah matang atau yang belum matang.

Beberapa cara atau metode induksi persalinan.

Penggunaan obat atau medikamentosa:

Setelah dilakukan pemeriksaan dalam vagina dokter akan menilai mulut rahim apakah sudah matang atau belum. Matang di sini adalah mulut rahim yang lunak dan melebar. Jika belum maka akan dilakukan induksi dengan cara ini.

1. Penggunaan prostaglandin E.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa apabila serviks sudah siap dan matang maka induksi yang dilakukan akan lebih besar kemungkinannya untuk berhasil.

Dokter menggunakan prostaglandin untuk membantu pelunakan serviks. Ada beberapa bentuk prostaglandin E yang bisa diberikan antara lain: prostaglandin E yang diberikan melalui dubur (supositoria), prostaglandin gel, prostaglandin yang dimasukkan ke vagina melalui alat dan prostaglandin tablet yang diminum.

Beberapa moms yang diberikan prostaglandin biasanya akan melahirkan dalam 24 jam tanpa perlu intervensi lain.

2. Drips oksitosin.

Ini adalah metode dengan memberikan obat untuk merangsang kontraksi rahim. Obat yang digunakan adalah oksitosin (seperti pitocin) yang diberikan melalui cairan infus.

Oksitosin akan membutuhkan waktu kira-kira 30 menit untuk mulai bekerja. Jadi, ibu diinfus dulu lalu ditambahkan oksitosin ke dalam botol infusnya, ibu akan mulai merasakan reaksi obat berupa kontraksi yang semakin besar dan sering setelah 30 menit.

Selama induksi, keadaan ibu dan janin akan dimonitor termasuk bagaimana kemajuan persalinannya. Apakah pembukaan serviks (mulut rahim) bertambah, kontraksi semakin sering dan kuat, denyut jantung janin apakah baik atau tidak.

Seperti halnya persalinan normal, latihan pernapasan yang sebelumnya mom sudah latih akan sangat bermanfaat untuk melalui proses ini.

Memicu terjadinya persalinan dengan alat (mekanik):

Merangsang terjadinya persalinan dengan menggunakan alat yang biasa dilakukan apabila jalan lahir (mulut rahim) sudah matang.

3. Penggunaan laminaria.

Ini adalah alat seperti batang lidi dengan ukuran panjang 5 sampai 7 sentimeter, diameter 2-3 milimeter yang dimasukkan ke dalam rahim untuk membantu memisahkan selaput ketuban dan dinding rahim.

Benda yang berasal dari batang rumput laut yang sudah disterilkan ini akan menyerap air dari serviks dan membantu terbukanya serviks, memicu pengeluaran prostaglandin dan menyebabkan kontraksi.

4. Kateter Foley.

Alat yang berbentuk selang kateter yang ujungnya seperti balon kecil yang dimasukkan ke mulut rahim untuk merangsang pemisahan dinding rahim dengan selaput ketuban.

5. Stripping membran.

Yaitu dokter dengan menggunakan jari mengitari daerah serviks untuk memisahkan selaput ketuban dengan dinding uterus. Biasanya dilakukan jika sudah terjadi pembukaan serviks 3 cm atau lebih.

Saat selaput terpisah, hormon prostaglandin akan dilepaskan dan memicu terjadinya kontraksi. Setelah dilakukan ini ibu biasanya akan mulai merasakan kram (nyeri/kontraksi).

Berbagai faktor akan dipertimbangkan oleh dokter sebelum memutuskan apakah moms akan menjalani persalinan dengan induksi atau tidak. Kurang lebih ada 25 persen persalinan yang terjadi dengan induksi yang tidak direncanakan sebelumnya.

Setelah mengetahui ini mudah-mudahan moms menjadi lebih siap menghadapi persalinan.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.