Menjadi Calon Ayah Yang Suportif Untuk Ibu Hamil

Menjadi Calon Ayah Yang Suportif Untuk Ibu Hamil

Kehamilan tidaklah mudah. Mengetahui bahwa istri hamil akan membuat kita senang tapi kita harus menerima hal-hal tidak mengasikkan yang menyertai kehamilan.

Beban kehamilan seharusnya tidak ditanggung oleh istri sendiri tapi ada kita, suami, yang mendampingi, membantu kesulitan yang dialami istri, membantu mengurangi beban yang dirasakan istri serta menjadi tempat curhat untuk menuangkan perasaan istri. Menjadi pendengarnya yang baik, memberinya kasih sayang tanpa syarat.

Suami adalah pendukung penting ibu hamil. Suami adalah pasangan yang membantu tercapainya kehamilan dan janin yang sehat. Suami seharusnya menjadi lebih dekat dengan istri sejak dari awal kehamilan sampai saatnya akan melahirkan.

Pemerintah kalau tidak salah memiliki program yang disebut dengan “Suami Siaga” yang tentu saja baik sekali, suami bisa berperan lebih dalam mendukung ibu hamil.

Cara suami memberikan dukungan kepada istri yang sementara hamil (di tiap trimester) antara lain:

Senang mengetahui istri hamil.

Gambaran beratnya menjadi seorang ibu hamil.

Kita bisa membayangkan bagaimana beratnya beban kehamilan, istri yang biasanya membawa tubuh sendiri kini harus mengandung bayi beserta rahim yang membesar untuk melakukan segala sesuatu dan itu akan semakin berat dirasakan seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

Secara fisik.

Istri saat hamil akan merasakan ketidaknyamanan saat duduk, saat berbaring, sakit pinggang, sering buang air kecil, kadang sulit tidur dan serentetan pengalaman yang tidak menyenangkan lainnya.

Kita bisa membayangkan bagaimana kesulitannya istri. Itu kalau kehamilannya normal, bagaimana kalau selama hamil istri mengalami komplikasi atau penyulit seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), gula (diabetes), preeklampsia, dll, apa yang dialami istri tentu akan semakin berat.

Secara psikis/hormonal.

Adanya perubahan hormon saat hamil membuat keadaan tidak menjadi lebih baik. Tanpa ingin mendramatisir atau melebih-lebihkan, kenyataannya, itulah yang dialami oleh ibu hamil.

Jadi kita tidak perlu mengeluh saat istri misalnya tengah malam ingin makan mie goreng, ingin ini dan itu terutama saat hamil muda.

Perubahan hormon akan menyebabkan ibu hamil mengalami perubahan emosional, perubahan mood, dll.

Mengetahui istri hamil sebagian besar suami pastinya akan senang mengetahui kabar itu.

Tunjukkan kalau kita sangat senang, bahagia, tidak sabar menyambut lahirnya bayi. Tunjukkan bagaimana akan menyenangkannya memiliki pengalaman bersama istri menyambut datangnya buah hati.

Di trimester pertama.

Inilah saat dimana keadaan akan mulai sulit, istri akan mulai merasakan perubahan hormonal, nyeri/kram pada perut. Saat ini dia akan sangat membutuhkan kita.

Saat ini dia mungkin akan mengalami mual-muntah (kehamilan muda), biasa kita sebut dengan morning sickness, merasa gampang lelah sehingga butuh perhatian kita.

Apabila istri kerja, sepulang kerja ia bisa saja langsung tidur/berbaring. Kita tidak perlu berlebihan dengan mengatakan dia malas atau tidak peduli dengan suami, sampai marah karena tidak ada makanan yang siap. Cobalah mengerti. Toh kita tetap bisa membeli makanan di luar, memesan gojek (gofood), makan di luar, dll.

Dia bukannya tidak perhatian dengan kita, tidak peduli dengan kita. Hanya, saat ini kehamilan dan janin lah yang paling penting bagi dia. Jangan sampai hanya karena sekali dia alpa melakukan sesuatu yang biasa dia lakukan membuat kita melupakan semua hal-hal yang selama ini dia lakukan.

Saat ini, berikan waktu yang cukup untuk istri istirahat, bantu dia mengerjakan perkerjaan rumah apabila kita mampu/sempat. Buatkan sarapan untuk dia meskipun itu hanya telur mata sapi atau roti tawar dengan selai Nutella.

Siapkan selalu air putih di dekatnya untuk membantu dia rehidrasi. Sebuah bantuan kecil yang akan sangat berarti baginya.

Saat ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) kiba bisa mengantar dan mendampingi istri, bersamanya mendengarkan nasehat dokter dan apa yang seharusnya dilakukan.

Di trimester dua.

Saat ini istri akan mulai bisa beradaptasi dengan perubahan saat hamil, dia tidak lagi mengalami mual muntah dan perubahan hormon menjadi lebih stabil.

Saat ini dia mungkin akan terlihat lebih cantik dan itu kesempatan kita untuk memberinya pujian (kenapa tidak?). Saat ini kita akan banyak menghabiskan waktu bersama istri mempersiapkan segala sesuatu menyambut persalinan dan bayi baru.

Belajar bersama tentang bagaimana saat melahirkan, bagaimana saat merawat bayi, bersamanya belajar dari buku atau internet bagaimana mempersiapkan persalinan dan merawat buah hati.

Kita mungkin akan mulai mendekorasi kamar/tempat tidur bayi, memilih tempat tidur bayi, tas bayi, baju bayi, kereta/gendongan bayi, membeli car seat, dll.

BACA JUGA: Untuk Ayah, Hindari Perdebatan

Di usia kehamilan ini istri mungkin akan mendapatkan pemeriksaan USG. Luangkan waktu untuk menemaninya, selesaikan semua pekerjaan di kantor sehingga bisa pulang lebih cepat. Meskipun istri mengatakan ia bisa pergi sendiri, tidak perlu ditemani, sudah ada si A yang menemani, tetap temani dia. Itu akan membuatnya senang dan merasa berterimakasih atas apa yang sudah kita lakukan.

Lagipula, tidak inginkah kita melihat langsung buah hati di dalam sana? Laki-laki atau perempuan ya? Ini bisa menjadi pengalaman yang tak ternilai.

Di trimester ketiga.

Kandungan semakin besar, janin juga lebih besar, secara fisik ini akan semakin menyulitkan istri. Meskipun itu tandanya persalinan tidak lama lagi, istri akan merasakan kelelahan, nyeri punggung dan pinggang serta merasa tidak tahan lagi untuk segera melahirkan.

Saat ini upayakan membuat segala sesuatunya mudah untuk istri. Bantu dia saat akan ke kamar mandi (hati-hati toilet licin), bantu saat naik/turun tangga, bantu untuk mandi, bantu dia menyiapkan dan membuatkan makan malam (atau pesan di luar atau buat yang praktis saja).

Tunjukkan kalau kita ada di dekatnya setiap saat.

Bayi akan lahir tidak lama lagi. Bantu persiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Siapkan sendiri tas dan perlengkapan untuk ayah sendiri dalam satu tas.

Siapkan kendaraan, car seat untuk bayi baru, perlengkapan bayi baru, pampers (diaper), dll. Ada lho bayi yang baru lahir yang ternyata bahkan selimut atau popoknya saja belum siap. Jangan sampai bayi sudah lahir kita baru sibuk ke sana kemari. Seharusnya kita menemani istri yang belum pulih benar setelah melewati proses persalinan yang melelahkan.

Saatnya persalinan.

Kita sudah tahu kira-kira kapan waktunya persalinan istri. Bereskan pekerjaan yang kira-kira dapat mengganggu kita saat waktunya melahirkan tiba.

Atur jadwal agar tugas kantor tidak sampai menghalangi kita untuk menemani istri saat melahirkan. Persalinan bisa terjadi kapan saja setelah usia kehamilan 38 minggu. Kecuali melahirkannya akan dengan operasi caesar elektif (direncanakan).

BACA JUGA: Persiapan Persalinan Untuk Ayah. Melahirkan Lebih Lancar Dan Bebas Stres

Kalau tidak terlalu penting, kita di rumah saja menemani istri. Pending dulu janji atau keinginan untuk ngopi bareng teman atau aktivitas menyenangkan lainnya saat istri tidak lama lagi akan melahirkan.

Menjelang persalinan istri mungkin akan merasa ketakutan, khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat melahirkan, takut bayi ada apa-apa, takut tidak bisa melewati proses melahirkan dengan lancar.

Berikan semangat, dukung, yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, banyak berdoa, dan yakin dokter akan melakukan yang terbaik untuk ibu dan bayi. Selalu bersyukur bahwa ibu dan janin sudah diberikan kesehatan sampai sejauh ini.

Pada akhirnya, diantara beberapa hal tidak mengasikkan selama hamil, banyak hal lain yang menyenangkan dan pengalaman berharga yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Nikmati momen tersebut bersama istri, suatu saat ayah dan bunda mungkin akan mengingatnya.

Nah, itulah yang mungkin bisa kita lakukan untuk memberikan dukungan kepada istri yang hamil. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk Ayah yang menantikan lahirnya buah hati.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.