Agar Jadi Suami Yang Baik Bagi Ibu Hamil, Hal Apa Yang Perlu Dihindari?

Menjadi Suami Yang Baik Bagi Ibu Hamil, Ini Hal Yang Perlu Dihindari

Kehamilan bisa sangat melelahkan baik secara fisik maupun emosional bagi ibu hamil. Ayah atau suami seharusnya berada di samping ibu memberikan dukungan dan bantuan kepada istri/ibu untuk membantu mengurangi beban itu.

Dukungan dan bantuan suami tersebut seharusnya membantu ibu mengurangi stres dan tekanan yang dia alami dan bukan membuatnya semakin tertekan.

Untuk melakukan itu suami/pasangan perlu mengetahui hal-hal yang sebaiknya dihindari dilakukan pada ibu hamil. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti untuk ibu.

Tidak acuh atau menganggap remeh terhadap hal-hal yang dapat membuatnya tidak suka, tidak nyaman, tersinggung atau terganggu.

Ada beberapa hal yang tidak disukai istri dilakukan oleh suami.

Hal ini umum sering dilakukan oleh suami, antara lain:

1. Tidak membantu mengerjakan pekerjaan rumah tidak membantu menjaga anak (si kakak).

Tidak perlu penjelasan panjang bagaimana sulitnya ibu hamil harus melakukan sesuatu dengan perutnya yang besar dan berat. Suami harus sensitif dan peka akan keadaan istri dan lebih banyak inisiatif apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban istri.

Membantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti merapikan rumah, membersihkan rumah, membersihkan piring makanan sendiri setelah makan adalah sedikit bantuan kecil yang akan sangat berarti untuk ibu.

Jika memiliki anak yang lebih tua, membantu menjaganya, memenuhi segala kebutuhannya akan sangat mengurangi beban ibu. Anak bisa sangat merepotkan apalagi ditambah dengan stres akibat kehamilan. Ibu sangat ingin suami menjaga si kakak sehingga ia bisa lebih leluasa melakukan pekerjaan lainnya dan memiliki waktu untuk istirahat lebih banyak.

2. Bersikap egois.

Istri jadi emosional, kesal, gampang marah bisa saja penyebabnya bukan karena dia yang lebih sensitif. Bisa saja itu dipicu oleh sikap kita yang egois, kurang mengerti atau hanya memperhatikan diri sendiri.

Saat beban istri bertambah, hal-hal kecil yang selama ini kita anggap hal biasa, mungkin tidak bisa kita anggap remeh lagi.

Merokok di depannya, pulang sampai larut malam, minum alkohol sebaiknya tidak kita lakukan lagi. Kita harus melepaskan ego dan lebih memikirkan kepentingan ibu (istri) dan anak yang akan lahir.

Hal-hal kecil seperti sabar saat berjalan bersamanya, tidak tergesa-gesa, karena kita tahu jalannya lambat karena hamil besar, menanyakan apa yang dia ingin pesan saat makan dan bukannya memesan seperti biasa yang ia pesan sebelum hamil adalah hal-hal kecil tapi berarti untuk ibu.

3. Kurang sensitif.

Mengatakan hal-hal yang kurang baik yang bisa menyinggung perasaan istri adalah hal berikutnya yang harus dihindari suami. Mengatakan bahwa ia seperti bola karena hamilnya semakin besar, saat mengalami morning sickness kita mengatakan kepada dia kalau itu bagus karena dia bisa diet adalah beberapa hal yang sebaiknya tidak katakan kepada ibu hamil.

Mengabaikannya dan kurang memperhatikannya seperti tidak menemaninya saat harus check-up untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care), tidak mengantarkannya untuk belanja melainkan membiarkannya pergi sendiri dengan angkot atau kendaraan umum adalah hal-hal yang tidak bisa kita anggap biasa.

Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan istri, 9 bulan lamanya kehamilan, tidak sekalipun kita pernah menemaninya ke dokter/bidan. Kita bisa saja tidak tahu kalau dia habis jatuh karena lantai yang licin dan begitu kesalnya dia sampai dia tidak menceritakannya kepada kita.

4. Terlalu peduli.

Kehamilan membuat istri menjadi sensitif. Oleh karena itu, akan lebih baik jikalau suami tidak terlalu proaktif dan melakukan hal-hal yang dapat memancing kekesalan/kemarahan istri. Cobalah mendengarkan apa yang ia katakan dan hindari hal-hal yang berlebihan.

Misalnya kita menganjurkannya untuk makan makanan yang sehat padahal kita dengan tidak pedulinya tetap makan makanan buruk tersebut. Mengomentari baju yang ia pakai setiap hari padahal kita tahu penampilannya sudah tidak seperti ia sebelum hamil.

Tidak memahami kompleksnya perubahan yang dialami istri saat hamil.

Ada suami yang mungkin mengalami istrinya gampang marah saat hamil dan bertanya kenapa itu bisa terjadi. Ya, selama hamil, tubuh wanita mengalami perubahan yang sangat besar akibat dikeluarkannya hormon kehamilan. Perubahan hormon tersebut dapat menyebabkan perubahan suasana perasaan (mood) yang bisa terjadi tiba-tiba. Salah satu bentuk perubahan hormon yang bisa kita lihat adalah ibu mengalami muntah-muntah (morning sickness) terutama di awal-awal masa kehamilan.

Tidak cukup dengan itu, ibu hamil di trimester akhir juga akan mengalami kesulitan fisik seiring dengan bertambahnya usia kandungan. Di akhir-akhir kehamilan pengeluaran hormon tertentu juga akan membuat ibu menjadi lebih mudah cemas/khawatir.

Selain itu, ada hal-hal lain yang membuat ibu hamil stres seperti:

  • Khawatir menghadapi persalinan dan saat melahirkan.
  • Khawatir dengan merawat bayi dan bagaimana memberikan ASI atau susu.
  • Tidak dapat melakukan sesuatu seperti sebelum ia hamil seperti melakukan olahraga kesukaannya, minum, makan sesuai yang dia inginkan, dll.
  • Harus mendengarkan saran atau komentar kurang sensitif dari orang-orang di sekitarnya.
  • Harus berhenti bekerja atau tidak bisa bekerja sesuai dengan yang dia inginkan.
  • Tidak siap dengan masalah psikologis yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan.

Dengan memahami apa yang dialami oleh ibu hamil (inside/ di dalam) kita akan bisa mengerti untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memicu ia menjadi kesal atau marah. Kita mungkin saja tidak melakukan hal yang salah tapi dengan memahami hal itu suami bisa ‘mundur’ dan berusaha mencoba memahami keadaannya.

Luangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati apabila menghadapi masalah (pada waktu yang tepat tentu saja).

Tidak mengetahui cara menyenangkannya, membuatnya tersenyum.

Hal yang penting adalah keinginan suami untuk mendengarkan dan mengerti. Hubungan suami istri adalah hubungan dimana dituntut adanya kesalingpengertian, menghindari ego berlebih demi kebahagiaan bersama.

Suami dan istri mungkin memiliki tanggung jawab sendiri. Suami lah yang bekerja siang dan malam mencari rezeki untuk istri dan anaknya, tapi itu bukan berarti suami berlepas tangan dan tidak mau mengerti dengan keadaan istri. Yakinlah, tidak mudah menjalani kehamilan selama 9 bulan.

Saat istri ‘berubah’ dan harus merubah gaya hidup ketika hamil, kita tidak akan mengalami perubahan yang besar seperti istri. Luangkan waktu untuk menyenangkannya dan membuatnya tersenyum.

Menemaninya menonton acara favoritnya, bercanda dengannya sambil duduk di sofa adalah salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan.

Membina hubungan lebih erat dan pondasi menjadi ayah yang baik.

Untuk memperkuat hubungan lebih erat suami dan istri ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan antara lain:

1. Hindari sikap saling menyalahkan.

Daripada saling menyalahkan, lebih baik menunjukkan sikap simpatik dan fokus untuk mencari solusi secara bersama-sama.

2. Lakukan hal secara bersama-sama sebagai orang tua.

Banyak hal yang bisa dilakukan bersama seperti memilih nama yang cocok untuk buah hati, memilih tempat tidur bayi, car seat, menemaninya ke dokter saat periksa USG, berbicara mengenai apa yang akan dilakukan, misalnya apakah bayinya nanti diberikan ASI eksklusif, bagaimana mempersiapkannya, dan lain-lain.

Belajarlah dari teman atau keluarga Anda yang sudah memiliki anak dan gali pengalaman mereka. Tidak ada orang yang lahir langsung menjadi orang tua jadi belajarlah menjadi orang tua!

3. Belajar untuk mengalah.

Kalau kita melakukan hal yang salah jangan ragu untuk mengaku salah dan meminta maaf. Jika kita ternyata benar, cobalah untuk tetap tenang dan tanggapi dia dengan cara yang baik tanpa perlu emosional dan memancing perdebatan. Mungkin sepertinya mudah diucapkan tapi sulit dilakukan tapi yakinlah kita bisa melakukannya.

Pada akhirnya istri mungkin akan merasa bersalah dan menyadari kekeliruannya dan meminta maaf.

Menjadi suami yang mendukung.

Pada akhirnya, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh suami terhadap istrinya yang hamil selain ‘mendukung’. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai dan alihkan ke hal-hal positif dan produktif. Kalau kita bisa melalui ini dengan baik kehidupan keluarga akan menjadi lebih baik dan bahagia. Istri pun akan menghadapi persalinan dengan lebih tenang dan lebih lancar.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.