Perkiraan Melahirkan Sudah Lewat, Belum Ada Tanda Melahirkan

Perkiraan Melahirkan Lewat Tapi Belum Ada Tanda Melahirkan

Sejak hamil ibu sudah tidak sabar untuk melihat dan menggendong bayinya. Di usia kehamilan 38 minggu kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut buah hati. Mendekati minggu ke-39 kita yakin tidak lama lagi dia akan lahir. Tapi tak terasa, minggu ke-40 pun berlalu. Kita menunggu dan menunggu tapi tanda-tanda melahirkan itu belum muncul juga.

Moms jadi khawatir, bertanya-tanya, apakah bayi akan baik-baik saja kalau lahir lewat dari perkiraan hari lahirnya (HPL). Bagaimana dengan ibu, apakah tidak akan bermasalah persalinannya nanti kalau lewat dari perkiraan melahirkannya (partusnya)?

Menunggu di kehamilan minggu-minggu akhir adalah pekerjaan yang sangat menyulitkan terutama kehamilan minggu ke-39, 40 menuju kehamilan minggu ke-41 dan 42.

Adalah wajar apabila moms khawatir. Tapi harus diingat, hal terbaik yang moms bisa lakukan saat kehamilan sudah lewat dari HPL (due date) adalah jangan stres. Tidak ada gunanya berpikiran negatif. Ibu sebaiknya fokus pada hal-hal positif dan berusaha tetap tenang sambil mencari jalan terbaik dengan konsultasi ke dokter.

Ada banyak hal yang bisa moms pertimbangkan, yang bisa moms lakukan, untuk membantu merangsang atau mempercepat terjadinya persalinan secara alami, yang juga akan kami bahas di bagian akhir tulisan ini.

Setelah membaca tulisan ini mudah-mudahan moms, terutama moms yang sedang hamil tua, dapat mengerti apa yang terjadi dengan kehamilan yang melewati due date-nya dan apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi persalinan yang mundur dari perkiraan.

HPL lewat belum ada kontraksi dan tanda melahirkan lainnya.

Kehamilan yang cukup bulan adalah kehamilan yang usianya 37-41 minggu. Melahirkan di usia kehamilan 39-40 minggu dianggap sebagai persalinan yang paling baik karena pada usia tersebut bayi sudah siap/matang untuk lahir.

Usia kehamilan 40, 41 minggu tapi bayi belum lahir.

Bila moms hamil 9 bulan tapi belum ada tanda-tanda melahirkan bahkan kram (mules, kontraksi) pun belum dirasakan mungkin dokter akan menghitung ulang usia kehamilan moms untuk konfirmasi lagi atau mempersiapkan dilakukannya induksi atau operasi sesuai dengan keadaan ibu dan bayi.

Untuk menghitung usia kehamilan dan memperkirakan kapan ibu melahirkan ada beberapa metode yang dipakai oleh dokter antara lain:

  • Menghitung perkiraan lahir berdasarkan ovulasi terakhir.
  • Menghitung HPL berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT).
  • Pemeriksaan ukuran rahim atau pemeriksaan tinggi fundus uterus.
  • Pemeriksaan USG. Dengan pemeriksaan USG di minggu-minggu pertama kehamilan dapat dinilai usia bayi antara 7 dan 10 hari.
  • Berdasarkan kapan janin pertama kali dirasakan bergerak (gerakan janin). Janin biasanya pertama kali bergerak pada usia kehamilan antara 18 minggu dan 20 minggu.

BACA JUGA: Cara Praktis Menentukan Kapan Akan Melahirkan Dan Usia Kehamilan

Apa saja yang menyebabkan persalinan mundur dari perkiraan?

Kenapa HPL tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan usia kehamilan dan menentukan kapan akan melahirkan?

Perhitungan perkiraan usia kehamilan untuk menentukan perkiraan kapan ibu melahirkan (HPL) akan membantu kita mempersiapkan persalinan dan mengontrol kemajuan kehamilan. Meski demikian, HPL tetaplah perkiraan dan tidak seorang pun bisa menentukan dengan pasti kapan ibu akan melahirkan.

Perkiraan HPL hanyalah untuk membantu kita. Menentukan hari melahirkan dengan akurat sulit dilakukan karena ada ibu yang menstruasinya tidak teratur, riwayat haidnya tidak teratur atau karena menganggap spotting/flek di minggu-minggu awal kehamilan sebagai haid.

Jadi bisa saja berdasarkan perhitungan HPL ibu sudah hamil 39 minggu tapi sebenarnya baru hamil minggu ke-38. Kehamilan minggu ke-41 (berdasarkan HPL) padahal sebenarnya kehamilan 40 minggu, dan seterusnya.

HPL hanyalah perkiraan, oleh karena itu hanya 5 persen bayi yang lahir pada tanggal perkiraan lahirnya, yang lainnya lahir 1 atau 2 minggu sebelum atau setelah HPL-nya. Terdapat 80 persen bayi yang lahir pada usia kehamilan antara 38 dan 42 minggu sehingga kita tidak perlu terlalu khawatir saat usia kehamilan 39 minggu ternyata belum melahirkan atau saat HPL seminggu lagi tapi belum ada tanda melahirkan. Terdapat rentang waktu yang lebar dimana ibu masih aman untuk melahirkan.

Kehamilan lewat waktu atau prolonged pregnancy (melewati due date-nya) kemungkinan disebabkan karena:

  • Ini adalah kehamilan pertama ibu.
  • Sebelumnya pernah mengalami kehamilan yang melewati due date-nya (post term pregnancy).
  • Bayinya adalah laki-laki.
  • Ibu mengalami obesitas.
  • Perhitungan HPL-nya salah.

Tidak perlu terburu-buru, tetap berpikir positif.

Tidak perlu terburu-buru, persalinan akan datang dengan sendirinya. Biarkan prosesnya berlangsung secara alami. Kita akan melahirkan saat ibu dan bayi sudah siap. Salah satu yang memicu terjadinya persalinan adalah bayi, bayi tidak bisa terus-menerus berada di dalam rahim. Saat dia siap, persalinan akan berlangsung.

Cobalah rileks, tidur. Tidurnya mungkin tidak berkualitas tapi percayalah itu akan menjadi tidur yang paling menyenangkan yang dirasakan ibu karena di awal-awal kelahiran bayi, moms tidak akan memiliki banyak waktu untuk beristirahat.

Kapan harus khawatir ketika persalinan belum datang-datang?

Tentang kehamilan yang lewat waktu (overdue pregnancy)

Umumnya persalinan yang terjadi di rumah-rumah sakit dan ditangani oleh dokter atau bidan adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 42 minggu. Persalinan yang lewat waktu atau overdue, persalinan setelah usia 42 minggu terjadi hanya pada 1 dari 10 bayi, jadi hal ini jarang terjadi.

Mungkin moms bertanya, ya jarang terjadi tapi bagaimana kalau saya mengalaminya?

Ya, persalinan lewat waktu ini menjadi perhatian kita. Diketahui bahwa persalinan yang terjadi setelah usia kehamilan 40 minggu memiliki resiko yang lebih besar. Oleh karena itu pada beberapa rumah sakit pendekatannya lebih aktif agar komplikasi pada ibu dan bayi dapat dicegah.

BACA JUGA: Mempersiapkan Diri Baik Fisik Maupun Mental Menghadapi Persalinan

Kita menjadi bertanya..

Apa saja resiko bahaya persalinan yang melewati HPL?

Resiko persalinan lewat waktu (lewat due date-nya):

  • Plasenta tidak dapat memenuhi kebutuhan janin. Pasenta tidak dapat menyediakan oksigen dan makanan yang cukup untuk janin. Seperti kita tahu plasenta adalah penyedia nutrisi dan makanan yang disalurkan melalui tali pusat (dari ibu ke bayi).
  • Jumlah cairan ketuban bisa berkurang (oligohidramnion) seiring dengan semakin bertambah besarnya janin. Ini bisa mempengaruhi detak jantung janin dan menekan tali pusat selama kontraksi.
  • Janin besar (fetal makrosomia). Bayi dalam kandungan bisa bertumbuh sangat besar yang nantinya akan menyulitkan persalinan. Persalinan menjadi bertambah lama, bayi sulit keluar, resiko bayi cedera saat lahir.
  • Resiko janin mengalami distress.
  • Efek lainnya: terjadi robekan jalan lahir, infeksi dan perdarahan setelah melahirkan.

Apa yang dilakukan dokter apabila kehamilan sudah melewati HPL-nya?

Karena beberapa resiko di atas maka kehamilan yang mencapai usia 40 minggu akan dimonitor lebih ketat. Kunjungan ke dokter, kontrol atau periksa kehamilan bisa lebih sering dan dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memonitor terutama kondisi janin.

Apa saja yang dilakukan atau perlu diperhatikan?

1. Gerakan atau tendangan janin.

Perhatikan gerakan janin, seberapa sering janin bergerak, tentunya berbeda-beda setiap janin/kehamilan.

Bila ibu merasa ada perubahan gerakan janin, misalnya jadi lebih jarang bergerak, tidak seperti biasanya kita harus ke dokter atau rumah sakit secepatnya untuk dilakukan pemeriksaan, menilai kondisi janin lebih teliti.

Tanda gerakan janin yang berkurang, janin lebih banyak diam adalah tanda janin mengalami distress (tekanan) sehingga perlu diputuskan apakah akan dipercepat persalinannya.

2. Pemeriksaan contraction stress.

Dengan menggunakan alat khusus, saat rahim mengalami kontraksi dinilai seberapa besar bayi berespon dengan melihat jumlah denyut jantung janin.

Dengan pemeriksaan ini kita bisa mensimulasi keadaan bayi saat persalinan sudah benar-benar terjadi. Dari sini kita bisa tahu apakah bayi mengalami distress atau tidak saat terjadi persalinan.

3. Pemeriksaan non stress.

Dengan menggunakan alat monitor elekronik janin, dinilai denyut jantung janin saat ibu bergerak. Ini akan menilai juga apakah janin mengalami tekanan (distress) atau tidak.

4. Pemeriksaan USG.

Pemeriksaan yang umum dan sering dilakukan.

Dengan pemeriksaan USG dokter ahli kebidanan dan kandungan (SpOG) bisa menilai:

  • Bagaimana posisi janin, ukuran janin, gerakan janin dan denyut jantung janin. Ini akan memberi kita ide seberapa besar ukuran bayi. Apabila bayinya besar, ibu mungkin akan kesulitan saat berkuat (mendorong bayi) dan memerlukan bantuan alat untuk membantu melahirkan bayi (penggunaan forceps atau vacuum).
  • Dengan pemeriksaan ini juga dokter akan menilai cairan amnion/ketuban yang melindungi bayi apakah cukup atau sedikit. Air ketuban yang kurang beresiko terjadinya komplikasi pada persalinan yang berlangsung lama.
  • Menilai posisi dan besarnya plasenta, apakah berada di samping atau di bawah (letak bawah). Plasenta atau ari-ari ini penting karena dengan inilah bayi ‘bernapas’. Dengan mengetahui letak plasenta pula, dokter bisa mengetahui apakah persalinan beresiko untuk terjadi perdarahan, ibu bisa melahirkan normal ataukah harus dilakukan operasi caesar.

Tindakan apa yang dilakukan saat usia kehamilan 40 minggu dan belum melahirkan?

Melewati usia kehamilan 39 atau 40 minggu perhatian kita akan lebih besar. Dokter atau bidan akan menentukan apakah persalinannya ditunggu sampai terjadi secara spontan ataukah dilakukan induksi.

Penentuan kapan persalinan akan diinduksi atau tidak biasanya tergantung dari protokol yang dianut oleh rumah sakit atau pusat pendidikan dokter di daerah tersebut atau berdasarkan kebiasaan bidan.

Yang jelas, akan lebih baik apabila bayi dilahirkan lebih cepat karena berdasarkan penelitian, diketahui bahwa persalinan yang berlangsung di minggu ke 40 sampai 42 kemungkinan bayinya untuk masuk ke perawatan intensif (NICU) menjadi lebih besar.

Meskipun jumlahnya kecil, itu menjadi perhatian kita. Selain itu, resiko kematian janin, sekali lagi, meskipun jumlahnya sangat kecil, juga menjadi perhatian kita.

Apabila persalinan tidak berlangsung secara spontan dokter akan melakukan induksi di usia kehamilan 41 minggu.

Dokter akan memutuskan apakah persalinan akan diinduksi atau tidak berdasarkan beberapa hal seperti:

  • Keadaan atau kesehatan ibu, apakah ada penyulit atau komplikasi.
  • Keadaan serviks/mulut rahim, pembukaannya, konsistensinya.
  • Keadaan janin saat dilakukan tes atau pemeriksaan non stress.

Persalinan dengan induksi bisa berujung lancar tapi apabila: persalinannya tidak maju, persalinan maju tapi progresnya lambat, persalinan maju tapi keadaan janin dalam rahim memburuk (meski sudah pembukaan 8 cm sekalipun) maka akan dilakukan operasi caesar.

Persalinan di bidan mungkin akan menunggu sampai minggu ke-42. Apabila setelah mencapai usia kehamilan tersebut ibu belum melahirkan maka akan dilakukan induksi. Di usia kehamilan 40-41 apabila ibu belum melahirkan, dengan syarat sudah terjadi pembukaan serviks 2 sentimeter, biasanya dilakukan servikal swap.

Saat pemeriksaan dalam, menggunakan jari, dokter atau bidan memisahkan serviks dari selaput ketuban untuk memicu terjadinya persalinan. Dengan cara ini, kadang persalinan berlangsung spontan dalam satu atau dua hari.

Khawatir, persalinan yang diinduksi akan berakhir dengan caesar (operasi).

Kekhawatiran kalau persalinan yang dilakukan dengan induksi akan meningkatkan resiko persalinan dengan cara caesar adalah hal yang wajar. Tapi berdasarkan penelitian, induksi persalinan pada kehamilan 39 sampai 41 minggu tidak berhubungan langsung dengan meningkatnya tindakan operasi caesar.

BACA JUGA: Tanda-tanda Dan Gejala Yang Ibu Rasakan Saat Akan Melahirkan

Operasi sesar sendiri adalah tindakan yang direncanakan (elektif) yang dilakukan karena keadaan tertentu. Meski demikian, itu bukan berarti persalinan yang diinduksi tidak akan berujung dengan operasi caesar.

Yang jelas, dokter dan bidan akan melakukan segala hal yang terbaik untuk kebaikan ibu dan janin.

Apa yang bisa ibu lakukan untuk merangsang, mempercepat terjadinya persalinan?

Nah daripada moms berpikir yang tidak-tidak, banyak khawatir, ada baiknya positif thinking dan mencoba melakukan hal yang bermanfaat.

Ada beberapa cara untuk mempercepat bayi lahir secara normal yaitu:

1. Aktif bergerak.

Di usia kehamilan lebih dari 40 minggu bergerak tidaklah mudah tapi ada banyak hal sederhana yang bisa ibu lakukan agar bisa aktif. Jalan kaki di pagi atau sore hari di sekitar kompleks rumah, naik turun tangga (menempatkan tekanan pada pinggul), yoga untuk ibu hamil (latihan dengan balon yoga) akan membantu meregangkan otot dan jaringan tubuh, meningkatkan kesehatan fisik ibu yang kesemuanya akan membantu saat persalinan nanti.

Tapi ingat, lakukan dengan hati-hati dan jangan berlebihan.

2. Berhubungan.

Hormon oksitosin yang keluar dapat memicu terjadinya persalinan pada “kehamilan yang cukup bulan” dan prostaglandin dapat membantu menipiskan bibir rahim.

3. Mencoba akupresur.

Ada beberapa titik-titik pada tubuh yang apabila dirangsang dapat memicu terjadinya persalinan. Jika ditekan dengan tepat, persalinan dapat terjadi dalam satu sampai empat hari.

4. Makanan.

Sebenarnya tidak ada jenis makanan tertentu yang secara pasti akan memicu terjadinya persalinan, salad misalnya yang katanya bisa merangsang terjadinya persalinan. Tapi tidak ada salahnya misalnya mencoba makan makanan yang pedas karena beberapa ibu mengatakan kalau persalinannya terjadi setelah mengonsumsi itu.

5. Dengarkan hanya dokter.

Saat kehamilan di usia ini tekanan bisa datang dari mana saja. Keluarga, teman, mertua, dll. Pertanyaan seperti “kok belum lahiran?”, “sudah lahiran ya?” adalah pertanyaan yang bisa membuat kita tertekan.

Ada baiknya menghindari itu semua sehingga tidak membuat kita semakin tertekan dan semakin khawatir. Menjauhi sosial media juga baik. Fokus ke diri ibu dan dan terus terhubung dengan dokter untuk mendapatkan saran terbaik. Selama ibu merasa baik, diperiksa ke dokter janin baik-baik saja, tidak ada yang perlu ibu khawatirkan.

BACA JUGA: Keluar Flek Yang Bercampur Lendir, Tandanya Melahirkan Sudah Dekat?

6. Sugesti, meditasi, beribadah.

Yakin bahwa minggu depan kita akan melahirkan. Rajin beribadah dan meminta ke Yang Kuasa agar bisa melahirkan segera, melahirkannya juga lancar dan bayi sehat.

7. Pada akhirnya ibu akan melahirkan juga.

Manfaatkan waktu yang kita miliki sekarang untuk banyak istirahat, mempersiapkan perlengkapan ibu saat melahirkan dan perlengkapan bayi baru lahir. Beres-beres rumah dan persiapan atau stok makanan di rumah juga perlu karena saat pulang ke rumah dari rumah sakit setelah melahirkan kita tidak akan memiliki banyak waktu.

Nah, ketika sudah hamil 9 bulan, 39 minggu atau lebih, sudah tahu kan apa yang terjadi dan apa yang sebaiknya kita lakukan. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook, Twitter dan WhatsApp.