Masalah Menyusui Yang Umum Ditemui Serta Cara Mengatasinya

Masalah Menyusui Yang Umum Ditemui Serta Cara Mengatasinya

Menyusui adalah cara alami untuk memberikan makanan kepada bayi. Sayangnya, menyusui tidak selalu bisa dilakukan dengan mulus dan tanpa masalah. Sulit menyusui bisa saja kita alami dan saat ini bingung dan mungkin berpikir untuk berhenti menyusui dan beralih memberikan bayi susu formula.

Menyusui sebenarnya tidak perlu sekompleks dan sesulit itu kalau kita bisa melakukannya dengan benar dan tahu apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan masalah yang berkaitan dengan menyusui bayi.

Menyusui bisa dilalui dengan mulus asal kita mau berusaha memperbaiki cara kita menyusui dan tidak putus asa ketika menghadapi masalah menyusui.

Berikut ini masalah umum yang sering menjadi penyebab sulit menyusui dan solusi bagaimana mengatasinya.

Payudara bengkak, puting nyeri dan cara mengatasinya.

1. Bayi menolak menyusu, tidak mau latch-on (menempelkan mulutnya ke puting ibu).

Pada bayi baru lahir kuncinya adalah melakukan skin-to-skin contact, kontak kulit langsung ibu dan bayi. Skin to skin contact dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah bayi lahir (inisiasi menyusui dini/IMD). Kalau keadaan tidak memungkinkan, ibu bisa melakukannya segera setelah bersama bayi.

Saat skin to skin contact Moms bisa membuka pakaian bagian atas dan menempatkan bayi di atas perut/dada ibu dengan hanya memakai diapernya. Upayakan ibu dan bayi nyaman. Saat bayi siap dia akan mencari payudara ibu dan meraih puting ibu untuk mencoba menyusui.

Apabila ini sulit dilakukan, Moms bisa memancing bayi dengan ASI perah dan menempatkan syringe (selang) yang diplester dekat payudara Moms sampai bayi bisa menyusui sendiri langsung ke puting. Selain, memompa ASI sangat baik untuk membantu produksi ASI.

2. Nyeri saat bayi latch-on.

Ibu yang masih baru biasanya akan merasakan sensitifitas dan rasa tegang tapi bukan nyeri pada payudara dan puting. Apabila Moms merasakan nyeri (sakit) ini berarti bayi tidak melekat pada puting (latch-on) dengan baik dan kita perlu memperbaiki posisi agar bayi latch-on.

Cara latch-on yang baik adalah mulut bayi terbuka lebar dengan dagu yang menekan payudara dan kepalanya mengarah ke belakang, matanya menatap ibu dan hidungnya menjauh dari payudara.

Biarkan bayi menyusu sendiri, kita tidak perlu menekan kepalanya agar mulutnya menekan payudara dan puting.

3. Bayi menggigit payudara.

Bayi mungkin akan mencoba menggigit Moms dengan gusi atau giginya pada beberapa kesempatan. Kalau dia melakukannya, jangan tarik bayi tiba-tiba karena itu hanya akan membuatnya menggigit dengan lebih keras tapi tarik dia mendekat ke Moms sehingga payudara Moms menutup hidungnya dan mau tidak mau dia akan bernapas dengan mulutnya, saat itulah tarik dia menjauhi payudara Moms.

Moms juga bisa memasukkan jari ke dalam mulutnya untuk mencegah jangan sampai menggigit kita. Lakukan semua ini dengan lembut dan hindari membuat bayi kaget karena dia sebenarnya melakukan ini tidak bermaksud menyakiti Moms.

4. Bayi tertidur saat menyusui. Khawatir menyusunya cukup atau tidak.

Cara membangunkan bayi dan memberinya tanda bahwa saatnya menyusui lagi adalah aliran ASI yang deras. Kita bisa menambah aliran ASI dengan menekan payudara menggunakan jempol dan jari kita. Lakukan dengan pelan (gentle) dan tidak terlalu keras untuk mencegah payudara nyeri/bengkak. Bayi biasanya akan merespon dengan mulai mengisap dan menelan. Saat bayi berhenti mengisap kita bisa mulai lagi menekan payudara.

Cara lain adalah dengan menepuk atau mengelus bagian bawah dagu bayi untuk mendorong bayi yang mulai tertidur mengisap kembali.

5. Puting luka.

Puting luka biasanya diakibatkan oleh menyusui yang tidak latch-on sehingga dengan memperbaiki latch-on, luka pada puting bisa dihindari.

Bisa juga karena frenulum, bagian bawah lidah, bayi terlalu ketat menyebabkan keadaan yang disebut dengan tongue tie, lidah jadi tidak bisa bergerak bebas dan menghambat terjadinya latch-on. Bisa juga karena adanya infeksi pada puting yang memerlukan penanganan khusus. Untuk mengatasi itu kita bisa menghubungi dokter.

6. Ada bagian payudara yang keras dan terasa nyeri.

Mungkin ada yang mengalami hal ini dan bertanya ini kenapa ya? Jadi, ada bagian atau daerah di payudara yang terasa nyeri, keras, ada benjolan, diakibatkan oleh adanya penyumbatan saluran kelenjar susu (saluran ASI tersumbat). Bisa terjadi sebelah saja atau kedua payudara.

Terjadinya penyumbatan mengakibatkan ASI tidak mengalir dan menyebabkan bendungan. Payudara kelihatan bengkak tapi ASI yang keluar hanya sedikit. Penyebab sumbatan kelenjar payudara bisa bermacam-macam.

Untuk mengatasinya, saat menyusui kita bisa memijat bagian payudara yang nyeri tersebut atau berusaha mengarahkan dagu bayi menekan ke bagian payudara yang nyeri saat menyusui. Di antara waktu menyusui Moms juga bisa melakukan kompres hangat.

7. Payudara merah dan nyeri.

Masalah sumbatan kelenjar payudara atau luka pada puting yang tidak diatasi biasanya akan menjadi infeksi payudara yang disebut dengan mastitis.

Cara mengatasi peradangan dan infeksi payudara (mastitis) sama dengan penanganan sumbatan pada kelenjar payudara yakni dengan menyusui lebih sering, melakukan pijatan lembut dan kompres hangat.

Apabila nyeri disertai dengan deman dan tidak hilang lebih dari 24 jam sebaiknya Moms periksa ke dokter untuk mendapatkan obat anti nyeri dan antibiotik jika diperlukan.

8. Sangat nyeri pada puting dengan puncak puting terdapat benjolan kecil berwarna putih.

Ini biasa disebut dengan milk blister atau milk blep, disebabkan oleh terbentuknya lapisan kulit di atas saluran keluar ASI sehingga ASI terperangkap di situ.

Untuk mengatasinya teruslah menyusui dan cobalah memijit untuk memecahkan blisternya. Ada kalanya kita harus menggunakan jarum steril untuk memecahkannya agar sumbatan hilang dan aliran ASI pada daerah itu kembali baik.

9. Puting berwarna pink (kemerahan), nyeri puting setelah menyusui, nyeri pada payudara.

Saat moms mengalami hal ini, segeralah ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Ini bisa menjadi tanda infeksi jamur kandida dan bisa saja menular ke bayi sehingga biasanya ibu dan bayi akan mendapatkan terapi.

Terapi yang umum diberikan untuk masalah ini adalah dengan mengoleskan gentian violet ke puting ibu sebelum menyusui sehinga bayi juga akan mendapatkannya, diberikan 1-2 kali sehari selama 3-4 hari.

Gentian violet ini bisa didapatkan di apotek, minta yang dalam larutan 1 persen. Hati-hati mengenai pakaian karena warnanya tidak bisa hilang tapi tidak perlu khawatir, bibir dan mulut bayi akan berubah menjadi ungu tapi akan hilang sendiri.

Apabila terapi dengan gentian violet tidak mempan, dokter akan meresepkan obat lain.

10. Bayi tidak mau berhenti menyusu.

Bagaimana pun bayi pasti akan berhenti menyusui tapi ada kalanya bayi menyusui terus-menerus dan tampaknya tidak kenyang meskipun sering atau lama menyusui.

Sebenarnya ini adalah hal yang normal. Bayi memiliki kapasitas pencernaan yang kecil karena organnya (lambung) masih sangat kecil sehingga dia akan membutuhkan makan lebih sering.

Pertumbuhan dan perkembangan bayi sangatlah cepat sehingga membutuhkan suplai energi dan nutrisi yang terus-menerus.

Selain itu, beberapa ibu memiliki daya tampung ASI yang kurang pada payudara sehingga meskipun ibu memproduksi ASI terus-menerus, bayi akan membutuhkan frekuensi menyusui yang lebih sering.

Yang paling penting bagi Moms adalah perhatikan apakah bayi berat badannya bertambah atau tidak, apakah diapernya diganti paling tidak 2-3 kali setiap hari dan payudara ibu (puting) tidak bengkak akibat sering disusui. Setiap bayi berbeda dan bisa saja bayi Moms menyusuinya lebih sering dari bayi yang lain.

Apabila bayi Moms berat badannya tidak bertambah, konsultasikan dengan dokter anak.

11. Bayi menyusu dengan tergesa-gesa atau tampak tersedak.

Beberapa ibu ada yang produksi ASInya lebih banyak sehingga saat bayi menyusui bayi akan mendapat ASI dengan aliran yang cepat dan deras. Bayi ini biasanya akan memiliki pup (tinja) berbusa berwarna kehijauan.

Untuk mengatasi derasnya ASI dan membuat bayi nyaman saat menyusui, cobalah menyusui dengan payudara lainnya secara bergantian setiap 2-3 menit untuk menyeimbangkan derasnya aliran ASI.

Apabila cara ini tidak berhasil, kita bisa mencoba menahan untuk tidak menyusui pada satu payudara (payudara kanan misalnya) selama misalnya 4 jam dan bayi kita susui dengan payudara yang lain (kiri).

Payudara kanan akan menjadi penuh dan itu akan mengirimkan sinyal ke tubuh untuk stop atau mengurangi produksi ASI. Setelah beberapa jam kita bisa berganti menyusui dengan payudara yang lain.

12. Payudara bengkak.

Payudara bengkak biasanya terjadi saat produksi ASI mulai meningkat kira-kira 3 hari pasca melahirkan. Ibu yang mendapatkan infus saat melahirkan, apakah karena melahirkan dengan operasi sesar atau mendapatkan induksi, akan mengalami edema (pembengkakan jaringan akibat cairan dalam tubuh) termasuk pembengkakan jaringan payudara akibat ASI ekstra.

Kompres pada payudara atau menaruh kol bersih di dalam bra diantara waktu menyusui bisa mengurangi pembengkakan payudara. Kita juga bisa menekan payudara untuk mengisi ruang berisi cairan di sekitar puting dan langsung memberikan ke bayi untuk menyusu.

Sering menyusui dan rutin memerah ASI (dengan tangan) akan membantu mengurangi pembengkakan payudara dan membuat ibu lebih nyaman. Hindari memerah ASI menggunakan alat karena akan menambah penumpukan cairan di dalam payudara.

13. Setelah menyusui puting berubah menjadi berwarna putih disertai nyeri yang berdenyut-denyut.

Perubahan ini disebabkan oleh spasme pembuluh darah balik (vasospasme) pada puting akibat perubahan suhu yang tiba-tiba dari mulut bayi yang hangat ke udara luar yang dingin. Aliran darah akan keluar dari puting secara tiba-tiba menyebabkan nyeri dan warna yang keputihan.

Untuk mengatasinya kita bisa mengompres puting dengan kain hangat atau memijat dengan minyak olive agar aliran darah kembali ke puting.

14. Bayi muntah setiap selesai menyusui. Apakah menyusunya cukup?

Muntah pada bayi pada umumnya tidak apa-apa dan tidak memerlukan perhatian khusus. Muntah adalah hal umum yang terjadi pada bayi.

Bisa saja bayi mendapatkan ASI yang berlebihan akibat ASI kita mengucur dengan deras dan muntah adalah cara bayi untuk mengatasinya.

Setiap bayi berbeda. Apabila bayi Moms suka muntah tapi tidak ada gejala lain, berat badan bsyi naik, bayi aktif dan ceria, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cukup usap sisa muntahnya dengan handuk bersih.

Tapi, kalau bayi muntah dengan cukup keras, muntahnya sampai menyemprot, bayi berat badannya tidak naik-naik serta ada gejala lain seperti bayi lemah dan tidak aktif saatnya menghubungi dokter.

15. Payudara terasa sudah tidak penuh lagi, merasa ASI sudah tidak ada.

Hal ini biasanya terjadi pada minggu ke-6 sampai ke-10 pasca melahirkan dan kadang membuat kita khawatir produksi ASI sudah tidak seperti dulu lagi.

Kekhawatiran ini sebenarnya berita baik karena yang terjadi sebenarnya adalah payudara kini bisa menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Bukannya mengisi antara waktu menyusui, ASI hanya akan dikeluarkan saat bayi menyusui.

Tetaplah menyusui ketika mengalami ini dan monitor kenaikan berat badan bayi serta diapernya (ganti popok 2-3 kali sehari) karena ini menandakan bayi cukup mendapatkan cairan dan makanan (ASI).

Nah, itulah beberapa masalah-masalah yang berkaitan dengan menyusui, masalah yang menyebabkan sulit menyusui dan cara mengatasinya. Mudah-mudahn tips ini bermanfaat.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.