Episiotomi, Pemotongan Vagina Untuk Memudahkan Lahirnya Bayi

Episiotomi Tidaklah Seburuk Yang Kita Bayangkan

Saat melahirkan untuk membantu lahirnya bayi, dokter kadang tidak memiliki pilihan kecuali melebarkan jalan keluarnya bayi dengan cara melakukan episiotomi.

Dulu, episiotomi adalah hal rutin yang dilakukan saat persalinan, kini episiotomi hanya dilakukan pada keadaan tertentu saja.

Ibu mungkin berpikir atau bertanya, episiotomi adalah tindakan yang tidak menyenangkan bagi ibu, apakah saat dilakukan episiotomi tidak akan terasa sakit, apakah tidak dibius dulu sebelum dipotong, apa efek sampingnya, pengaruhnya di kemudian hari, apakah sakitnya bertahan lama, dan lain-lain.

Apabila Moms berencana untuk melahirkan dengan cara normal, informasi berikut ini akan bermanfaat untuk Moms.

Untuk memahami tentang episiotomi ada baiknya kita mengikuti penjelasan berikut sehingga kita lebih paham dan bisa mengerti bahwa sebenarnya episiotomi tidak seburuk yang kita bayangkan.

Apa itu episiotomi?

Episiotomi adalah tindakan memotong sebagian perineum, kulit bagian bawah vagina, untuk melebarkan pembukaan vagina agar bayi dapat keluar lebih cepat dan mudah. Ini dilakukan untuk mencegah robeknya vagina dan perineum yang lebih besar atau robek jalan lahir yang tidak rapi.

Episiotomi bisa dilakukan medial, yakni pemotongan tepat di bagian tengah perineum dari atas ke bawah, dan mediolateral yakni pemotongan secara miring kurang lebih 30-60 derajat ke arah samping bawah. Medio= tengah, lateral= samping.

Episiotomi adalah sayatan pada perineum untuk melebarkan jalan lahir, mempermudah persalinan.
Insisi dan jahitan luka episiotomi

Pemahaman lama tentang episiotomi:

Dulu kita memahami bahwa episiotomi akan mencegah luka robek jalan lahir yang lebar saat melahirkan dan mendukung penyembuhan luka jalan lahir yang lebih baik dan lebih cepat. Selain, jaringan ikat dan otot dasar panggul lebih terjaga kalau dilakukan episiotomi.

Namun, belakangan diketahui bahwa, berdasarkan penelitian, episiotomi rutin tidak terbukti mampu mencegah terjadinya semua hal tersebut.

Pemahaman dan pendekatan baru terkait episiotomi:

Tindakan episiotomi yang dilakukan rutin pada setiap persalinan normal kini tidak diperlukan lagi. Ibu melahirkan normal kemungkinan melahirkan tidak akan mendapatkan episiotomi lagi.

Meskipun demikian, prosedur episiotomi mungkin akan tetap dilakukan pada keadaan tertentu.

Episiotomi dilakukan sehingga bayi dapat dilahirkan dengan cepat pada keadaan seperti:

  • Perineum (bagian kulit antara anus dan vagina) tidak dapat melebar atau tidak cukup meregang untuk keluarnya bayi. Biasanya terjadi pada ibu yang memiliki perineum yang kaku atau sempit. Tanpa melakukan episiotomi, kemungkinan perineum akan robek dengan kasar dan tak beraturan akan semakin besar.

Robekan yang dibuat sengaja dengan melakukan episiotomi, hasilnya akan lebih rapi dan lebih mudah dijahit, mengurangi resiko perdarahan yang lebih besar dan mencegah ruptur (robek) yang lebih besar pada vagina dan anus.

  • Persalinan berlangsung lama dan keadaan bayi tidak terlalu baik apabila persalinan bertambah lama. Bayi memiliki denyut jantung yang tidak teratur saat proses melahirkan. Gawat janin, dll.
  • Apabila dilakukan persalinan dengan bantuan alat, forseps atau vakum (persalinan dengan tindakan).
  • Bahu bayi yang besar/lebar (distosia bahu). Bahu bayi dapat tersangkut di panggul ibu sehingga menyulitkan lahirnya bayi.

Episiotomi atau pemotongan yang dilakukan biasanya insisi mediolateral yakni pengguntingan dari arah vagina ke luar secara menyamping untuk mencegah ruptur atau luka robek melebar ke arah anus.

Jahitan episiotomi dan pemberian anestesi (obat bius lokal).

Luka episiotomi panjangnya biasanya 3 sentimeter. Tergantung dokter dan rumah sakitnya episiotomi bisa dilakukan dengan dibius dengan bius lokal (anestesi lokal) sebelumnya tapi bisa juga tanpa anestesi. Kalau kita tidak mendapatkan anestesi, kita tidak perlu panik karena dianestesi atau tidak sebenarnya tidak terlalu besar perbedaannya karena saat melahirkan, nyeri yang dirasakan akibat kontraksi bisa menutupi nyeri akibat episiotomi.

Umumnya saat dilakukan episiotomi, ibu tidak akan sadar kalau itu sudah dilakukan karena tidak merasakan apapun. Ini adalah hal umum dan sering dilakukan di rumah sakit.

Saat dokter atau bidan melakukan episiotomi ibu tidak akan merasakan nyeri dimana saat penyembuhan ibu mungkin akan merasa tidak nyaman (sakit).

Setelah melahirkan, plasenta (ari-ari) sudah keluar, dokter akan menjahit luka episiotomi dengan jahitan yang akan menyatu dengan kulit dan mungkin akan ada yang lepas sendiri.

Biasanya luka jahitan akibat episiotomi akan sembuh dalam 2 minggu dan ibu mungkin akan merasakan adanya jahitan saat buang air atau saat membersihkan bagian bawahnya.

Berapa lama nyeri episiotomi dirasakan?

Nyeri pada luka episiotomi akan dirasakan selama 3 sampai 4 hari. Biasanya luka jahitannya akan sembuh dalam 1-2 minggu dan kita bisa saja merasakan nyeri di sekitar tempat jahitan. Pada beberapa ibu akan merasakan nyeri ringan dan bisa merasa tidak nyaman sampai selama sebulan.

Untuk mempercepat penyembuhan luka episiotomi, jaga kebersihan personal terutama di area yang luka dan minum obat yang diberikan oleh dokter, biasanya terdiri dari obat antibiotik dan antisakit.

Luka episiotomi biasanya rapi dan bersih dan scar atau bekas lukanya tidak terlalu kentara apalagi berada di tempat yang tersembunyi. Kita tidak perlu khawatir, orang lain tidak akan tahu kecuali kita yang memberitahunya.

Saya tidak ingin mendapatkan episiotomi, apa yang harus saya lakukan?

Kita mungkin terlalu khawatir bila mendapatkan episiotomi atau tetap merasa tidak puas kalau melahirkan harus mendapatkan episiotomi meskipun setelah mendapatkan penjelasan sepeti di atas. Apa yang sebaiknya kita lakukan agar tidak mendapatkan episiotomi?

Yang bisa kita lakukan adalah dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum menghadapi persalinan.

  • Kita bisa berlatih pernapasan, belajar cara mengatur dan mengendalikan pernapasan. Sehingga kita tidak kehilangan kontrol saat melahirkan, bisa menunggu untuk mendorong sampai perineum benar-benar sudah meregang dan melunak.
  • Kita bisa melakukan pijat perineum (perineal massage) untuk membantu melenturkan perineum sebelum melahirkan.

Yang paling penting adalah, persiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi persalinan dan kita tidak perlu terlalu khawatir dengan akan dilakukannya episiotomi atau tidak karena sebenarnya itu untuk kebaikan kita dan bayi, serahkan semuanya ke dokter.

Kapan bisa berhubungan setelah melahirkan dengan episiotomi?

Setiap ibu berbeda-beda, ada yang cepat pulih tapi ada juga yang lama pulih pasca melahirkan. Saat berhubungan, nyeri bisa dirasakan bukan hanya dari luka episiotomi tapi dari pembengkakan bagian tubuh yang terlibat saat melahirkan. Nyeri bekas luka episiotomi ini bisa dirasakan beberapa bulan pasca melahirkan.

Dokter menyarankan untuk melakukan hubungan seksual 6 minggu setelah melahirkan. Normalnya, itu waktu yang cukup diperlukan oleh tubuh untuk kembali pulih termasuk dari luka episiotomi. Jika kita mengalami masa pemulihan lebih lama, ada baiknya untuk melakukannya secara bertahap dan hati-hati, tidak perlu terburu-buru.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.