Persiapan Persalinan Untuk Ayah. Melahirkan Lancar, Bebas Stres

Mendukung Persalinan, Mempersiapkan Persalinan Untuk Ayah

Selama ini kita mungkin menganggap bahwa istri atau ibu lah yang harus mempersiapkan segalanya untuk menghadapi persalinan. Kini, semakin disadari bahwa peran Ayah sangatlah besar untuk mewujudkan persalinan yang lebih lancar dan bebas stres.

Peran Ayah atau suami ini bukan hanya untuk membantu ibu dan memberikan dukungan emosional tapi juga baik untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi selajutnya.

Dukungan yang bisa dilakukan oleh Ayah antara lain yaitu:

Ayah juga sebaiknya belajar tentang persalinan.

Melahirkan adalah proses yang unik yang memerlukan persiapan dan usaha tertentu. Dengan mengetahui proses persalinan yang baik, mengetahui bagaimana cara mengejan yang baik, bernapas yang benar saat menunggu untuk mulai mengejan akan membantu Ayah lebih mengerti dan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.

Ayah sebaiknya belajar atau mencari tahu mengenai prosedur yang akan dilakukan saat melahirkan seperti melahirkan dengan induksi, sesar (sectio cesarea), melahirkan dengan bantuan alat, dll. Ini akan membantu kita mempersiapkan diri dan mengetahui apa yang akan dihadapi.

Luangkanlah waktu untuk belajar dari internet, buku, video dll sehingga kita tidak perlu kaget atau bingung saat proses persalinan nanti. Jangan ragu untuk bertanya atau menggali informasi dari dokter atau bidan mengenai prosedur yang akan dilakukan dan saran yang bisa diikuti saat menghadapi persalinan.

Dengan banyak tahu juga akan membantu kita memutuskan sesutu yang berkaitan dengan proses persalinan istri.

Belajar teknik relaksasi dan pernapasan untuk Ayah sendiri dan ibu.

Ya, ini penting karena melahirkan itu bisa berlangsung lama dan bisa menguras tenaga fisik dan psikis istri. Menunggu masa pembukaan saat persalinan bisa sangat menyakitkan untuk istri dan untuk mengatasi itu ibu disarankan untuk mengatur pernapasan agar tenaga tidak hilang dan bisa disimpan saat waktunya mengejan serta membantu mengurangi nyeri yang dirasakan saat terjadinya kontraksi.

BACA JUGA: Menjadi Suami Yang Baik Bagi Ibu Hamil, Hal-hal Yang Perlu Dihindari

Ayah bisa ikut mengatur napas dan membantu memandu istri sehingga istri tidak kelelahan akibat cara bernapas yang salah. Pelajarilah cara bernapas yang benar, belajarlah bagaimana cara merelaksasikan otot dan membantu istri untuk tetap rileks.

Siapkan tas sendiri untuk dibawa ke rumah sakit.

Tak semuanya harus istri yang menyiapkan. Ayah bisa menyiapkan sendiri pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Siapkan tas tersendiri untuk ayah dan pastikan sudah siap dibawa ketika saatnya harus ke rumah sakit karena persalinan sudah dekat. Siapkan di minggu-minggu terakhir, 1-2 minggu sebelum perkiraan waktu melahirkan.

Tentunya saat di rumah sakit Ayah tidak mau menyambut tamu atau dokter dengan pakaian yang sehari sebelumnya sudah dipakai, atau memiliki aroma badan atau mulut yang tidak asik karena tidak membawa sendiri gosok gigi atau sabun.

Siapkan pakaian dan perlengkapan khusus untuk Ayah untuk selama 2-3 hari di rumah sakit/rumah bersalin. Ini akan cukup untuk Ayah meskipun nantinya akan menginap di rumah sakit lebih dari 3 hari (mudah-mudahan ibu sudah pulang dalam dua hari dan tanpa komplikasi), ini memberikan waktu agar keluarga bisa mengganti pakaian kita dengan yang baru.

Kendalikan keadaan dan berikan waktu untuk menemani istri dan bayi.

Tugas di kantor dan kesibukan pekerjaan mungkin tidak bisa hilang dari kepala Ayah. Orang-orang umumnya akan mengerti dengan keadaan kita dan akan memberikan Ayah waktu untuk menemani istri dan bayi barunya. Toh, ini tidak akan berlangsung selamanya dan hanya sementara.

Nikmatilah waktu saat bersama bayi, saat menyentuhnya untuk pertama kali atau saat menggendongnya karena ini adalah pengalaman yang sangat berharga.

Berikan waktu kepada ibu untuk memulihkan diri dan berdua dengan bayinya. Hindari gangguan akibat bunyi dering telepon atau pesan yang masuk. Pastikan istri sudah siap dan mau menerima pengunjung atau pembesuk sehingga tidak membuatnya repot dan mengganggu waktu istirahatnya.

BACA JUGA: Tentang Pemulihan Setelah Operasi Caesar

Kita bisa membuat daftar orang yang akan dihubungi untuk memberitahukan kabar kelahiran bayi tapi kita tidak perlu menghubungi semua rekan atau keluarga.

Cukup sampaikan ke beberapa orang dan meminta kerabat atau teman kita menyampaikannya ke yang lain. Dengan begitu kita bisa fokus untuk menemani dan membantu ibu dan bayi.

Tabah dan kuat.

Persalinan tidak selamanya berlangsung dengan mulus. Ada kalanya terjadi komplikasi atau penyulit yang menyebabkan persalinan lebih lama, persalinan harus dibantu dengan alat atau mungkin istri harus didorong ke kamar operasi untuk dilakukan operasi sesar (sectio) karena persalinannya tidak maju-maju.

Kita kadang harus berhadapan dengan keadaan yang kurang baik dan harus mengambil keputusan sulit seperti saat bayi yang baru lahir harus mendapatkan penanganan serius dan harus dirawat di NICU (ICU bayi).

Saat mengalami keadaan ini kita harus tetap tenang dan banyak berdoa dan percaya bahwa dokter dan perawat akan melakukan hal yang terbaik untuk ibu dan bayi.

Mencintai istri tanpa syarat.

Ini mungkin yang tidak kita sadari. Dari luar, kehamilan yang kita lihat mungkin adalah perut istri yang membesar, berat badan istri yang bertambah dan hal-hal fisik lainnya. Sebenarnya tidak hanya itu. Di dalam tubuh istri juga terjadi perubahan hormonal yang berguna untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan janin dan kandungan.

BACA JUGA: Dukungan Yang Bisa Diberikan Untuk Ibu Dengan Bayi Baru

Sayangnya hormon ini juga berdampak psikis dan emosional terhadap istri. Bisa kita lihat dengan perilaku dan emosional istri yang berubah. Hormon ini memerlukan waktu untuk kembali ke kadar normalnya seperti sebelum melahirkan sehingga kita harus mengerti keadaan istri dan menyadari bahwa kata-kata dan tindakannya banyak dipengaruhi oleh hormon ini.

Saat istri frustasi, kesal dan marah hindari untuk terbawa emosi dan membuat keadaan menjadi semakin runyam. Ingatlah untuk selalu mencintainya saat dia sehat dan sakit dan ingatlah bahwa saat-saat seperti inilah sebenarnya dia sangat memerlukan kita. Yang diharapkan membantunya dan mendukungnya di masa-masa sulit ini adalah kita. Siapa lagi?

Saat salah satu diantara kita lemah, yang lainnya harus kuat.

Bicaralah dengannya dengan tenang dan penuh perhatian, perlakukan dia dengan baik dan cobalah penuhi segala permintaan/kebutuhannya. Yakinlah bahwa masa yang ‘berat’ ini akan berakhir dan keadaan akan berubah menjadi lebih baik.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu Moms dan Dads lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.