Posisi Aman Kepala Bayi Saat Tidur Cegah SIDS, Kepala Gepeng

Posisi Aman Kepala Bayi Saat Tidur Cegah SIDS, Kepala Gepeng

Mungkin kedengaran serem tapi ini bukan untuk menakuti ayah dan ibu semua. Kekhawatiran ayah dan tentu sudah banyak, apalagi ibu yang baru pertama kali memiliki bayi. Tulisan ini mudah-mudahan bisa memberi wawasan tambahan bagi orang tua baru sehingga bisa berpikir dan bertindak logis dan bisa me-manage kekhawatiran tersebut sehingga tidak menjadi hal yang negatif.

Tidur bayi adalah hal yang penting diperhatikan oleh ayah dan termasuk posisi tidur dan posisi kepala bayi saat tidur. Tidur bayi sering dikaitkan dengan kematian mendadak bayi (SIDS) dan kejadian kepala bayi gepeng yang biasanya disebabkan oleh kebiasaan yang salah saat bayi tidur.

Sebenarnya tidak ada hal khusus yang sebaiknya kita lakukan untuk mencegah terjadinya hal ini. Lebih ke apa yang sebaiknya kita hindari untuk mencegah ini terjadi pada buah hati kita.

Tidur bayi dan kematian mendadak bayi.

Ancaman terjadinya kematian mendadak bayi atau yang biasa kita kenal dengan SIDS (sudden infant death syndrome= sindroma kematian mendadak bayi) adalah hal yang nyata. Anehnya bayi terlihat sehat (normal) sebelumnya dan tidak ada masalah. Untungnya kejadian ini sangat jarang terjadi.

Tidak ada yang mengetahui penyebab pasti terjadinya SIDS ini, biasanya terjadi pada saat bayi tertidur, umumnya pada bayi yang berusia 1 tahun ke bawah. Setelah bayi berusia 1 atau 2 tahun orang tua tentu bisa lebih tenang.

Salah satu teori yang menjelaskan kenapa ini bisa terjadi dikaitkan dengan posisi tidur bayi. Sepertinya resiko ini meningkat saat bayi tidur dalam posisi tengkurap, tidur pada kasur (matras) yang terlalu lembut, tertutup oleh kasur, bantal atau seprei, selimut, mainan bayi, dll.

Apapun keadaan yang menghalangi atau mengurangi bayi bisa mendapatkan oksigen atau bernapas dengan baik saat tidur dikaitkan dengan terjadinya SIDS. Berkurangnya oksigen yang masuk ke dalam tubuh dan bertambahnya kadar karbon dioksida menyebabkan tubuh terutama otak kurang mendapatkan oksigen dan menyebabkan kematian mendadak.

BACA JUGA: Agar Bayi Belajar Jalannya Lebih Cepat, Jangan Pakaikan Sepatunya

Oleh karena itu, posisi tidur, tempat tidur bayi, harus dijaga agar bayi bisa bernapas dengan baik saat tidur.

Tips untuk mencegah terjadinya SIDS:

Posisi tidur yang aman pada bayi
Posisi tidur yang aman untuk bayi. Tempat tidur bayi bersih, tidak ada mainan dan bantal, kaki rapat di bawah tempat tidur. Gambar dari rednose.com.au

1. Sebaiknya bayi sebelum berusia 2 tahun tidak menggunakan bantal saat tidur. Bayi bisa tidur dengan baik dan nyaman tanpa menggunakan bantal. Bantal bisa membenam muka bayi dan menutup jalan napasnya. Jauhkan guling dari boks atau tempat tidur bayi sehingga tidak menutup wajah bayi, termasuk mainan bayi dan selimutnya.

2. Kalaupun menggunakan bantal gunakan yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu lembut untuk mencegah kepala bayi terbenam. Awasi apabila bayi tidur menggunakan bantal atau lebih baik kalau tidak menggunakan bantal sama sekali.

3. Di boks bayi atau tempat tidurnya, jauhkan segala macam mainan, bantal dan lainnya di dalam box. Benda-benda tersebut bisa berpindah dan menutupi wajah bayi.

4. Posisikan bayi di tempat tidurnya dengan kaki menyentuh dasar boksnya, bukan sebaliknya. Ini untuk mencegah bayi melorot ke bawah dan selimutnya menutupi wajahnya.

5. Penggunaan bantal khusus bayi seperti bantal berbentuk U sebaiknya dihindari karena penggunaan bantal ini bisa menghalangi bayi untuk membalik kepalanya ke sisi lainnya, saat bayi muntah atau gumoh bisa terjadi regurgitasi dan bayi tersedak oleh muntahnya.

6. Penggunaan bantal sebaiknya dihindari oleh karena bantal bisa robek dan isinya bisa keluar dan menghalangi jalan napas bayi.

Tidur bayi dan kepala gepeng pada bayi (flat head).

Bayi lahir dengan kepala yang masih lunak (lembek) memiliki maksud yang baik. Dengan tulang kepala yang masih lunak, persalinan akan berlangsung dengan lebih cepat dan membantu bayi dapat melewati jalan lahir yang sempit dengan lebih mudah.

Tulang kepala bayi
Sejak lahir bayi memang memiliki tulang kepala yang belum terbentuk sempurna. Terlihat ubun-ubun bayi (fontanella) yang belum menutup. Gambar dari radiopaedia.org.

Selain itu, dengan kepala yang lunak, akan memungkinkan bagi tumbuh dan berkembangnya otak janin dengan baik. Seperti kita tahu, pertumbuhan bayi sangatlah pesat di tahun-tahun pertamanya, terutama pertumbuhan otaknya.

BACA JUGA: Adakah Cara Agar Rambut Bayi Cepat Tumbuh? Tips Untuk Bayi Dengan Rambut Tipis

Saat lahir bayi mungkin akan memiliki kepala yang tidak bundar sempurna, gepeng, atau tidak berbentuk simetris. Ini adalah hal yang wajar. Selain kaput (bengkak karena penggunaan alat untuk membantu persalinan), kepala yang tidak berbentuk sempurna adalah hal yang wajar, biasanya bertahan hingga bayi berusia beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Tapi, ibu tidak perlu khawatir, bentuk kepalanya akan semakin simetris dan kembali ke bentuk semula saat usianya 1-2 tahun.

Meskipun demikian bayi bisa mengalami keadaan yang disebut dengan kepala gepeng (flat head, kepala rata) pada salah satu sisi atau bagian belakang kepala apabila bayi tidur dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama atau adanya masalah pada otot leher.

Kepala datar/gepeng sama sekali tidak berbahaya, tidak akan mengganggu perkembangan otak anak atau menyebabkan masalah lainnya di kemudian hari.

Keadaan ini, flat head, bisa dicegah dan diperbaiki tanpa melakukan operasi. Hanya perlu memperbaiki posisi kepala bayi saat tidur.

Penyebab terjadinya kepala gepeng pada bayi:

1. Posisi kepala bayi saat tidur (penyebab utama).

Bayi tidur dalam waktu yang lama, bisa berjam-jam, biasanya dalam posisi terlentang. Dengan posisi ini kepala bayi akan berada pada satu posisi yang sama terus-menerus dan memicu terjadinya spot yang datar pada sisi yang mengalami tekanan terus-menerus.

Keadaan ini bisa terjadi tidak hanya karena bayi tidur tapi bisa juga karena ia berada di keretanya, gendongan atau ayunannya, termasuk saat disusui pada satu sisi yang sama terus-menerus.

2. Bayi yang lahir prematur kemungkinan mendapatkan kepala gepeng juga lebih besar.

Karena usianya yang masih sangat muda, ia memiliki tulang yang lebih lunak dibandingkan dengan anak yang lahir cukup umur. Bayi prematur juga biasanya menghabiskan waktu lebih banyak terbaring di tempatnya, diboksnya atau di NICU sehingga lebih rentan untuk mendapatkan flat head.

3. Kepala gepeng sejak dalam kandungan.

Ini bisa terjadi apabila kepala bayi mendapat tekanan pada satu sisi pada saat masih dalam rahim, bisa karenan tekanan panggul ibu, bayi kembar.

4. Tortikolis.

Bayi dengan tortikolis memiliki otot leher yang kaku di satu bagian yang membuatnya kesulitan untuk menggerakkan kepalanya. Kepala bayi akan cenderung berada pada satu posisi dan memicu terjadinya flat head.

5. Anak dengan perkembangan motorik lambat.

Karena anak mendapatkan stimuli atau rangsangan yang kurang, anak bisa mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Keadaan ini dapat menyebabkan anak lemah atau tidak memiliki kemampuan motorik yang baik, efeknya ia tidak (lambat) bisa menggerakkan kepalanya sehingga cenderung berada pada satu posisi dan memicu terjadinya flat head.

Bagaimana mengenali bayi yang memiliki kepala gepeng?

Cukup mudah karena kita bisa melihat tanda dan gejalanya langsung.

1. Pada bagian belakang kepala (di dunia medis dikenal dengan oksiput) datar pada satu sisi atau tidak simetris.

2. Pada bagian tersebut rambut bayi biasanya kurang (seperti botak) daripada daerah lainnya.

3. Bisa terlihat telinga bayi agak terdorong ke depan di bagian kepala yang flat/datar tersebut.

4. Apabila penyebabnya tortikalis, leher, dagu dan wajah bisa terlihat tidak simetris.

Apa yang dilakukan untuk memperbaiki kepala gepeng pada bayi?

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan sederhana untuk menentukan apakah bayi benar mengalami sindrom kepala gepeng atau tidak, termasuk memeriksa kemungkinan terjadinya tortikalis.

Apabila penyebabnya karena posisi tidur bayi ada beberapa hal sederhana yang bisa ibu lakukan antara lain:

1. Merubah posisi kepala bayi saat tidur.

Ini dilakukan secara manual. Orang tua yang memiliki bayi dengan flat head bisa merubah posisi kepala bayi saat tidur ke sisi kepala yang bulat (bundar, dari posisi yang flat). Jadi kepala yang gepeng tidak menyentuh tempat tidur. Lakukan ini terus-menerus sesempatnya kita. Bayi mungkin akan menggerakkan kepalanya kembali ke posisi semula tapi tidak apa-apa, setidaknya itu akan memberi kesempatan bagian kepala bayi yang datar untuk tidak terus-menerus mendapat tekanan.

Secara alami tubuh (kepala bayi) akan kembali ke bentuknya semula (normal).

Hindari menggunakan bantal atau perlengkapan bayi apapun yang membuat kepala bayi tetap pada satu posisi.

2. Gendong bayi lebih sering.

Menggendong bayi akan mengurangi waktu bayi tidur terlentang dan mengurangi waktu kepala bayi kontak dengan permukaan yang datar seperti car seat, stroller dan ayunan. Mungkin terlihat merepotkan tapi itu tidak akan terjadi terus-menerus kok.

Saat kita dari perjalanan jauh dengan bayi, saat tiba gendong dia dari car seat atau tempat duduknya untuk mengurangi tekanan pada kepalanya.

3. Lakukan tummy time.

Tummy time adalah salah satu cara stimulasi bayi selain untuk mengurangi resiko terjadinya flat head pada bayi. Lakukan tummy time sejak bayi berusia 4 sampai 6 minggu. Lakukan beberapa sesi setiap hari dan tingkatkan frekuensi dan waktunya sesuai dengan kemampuan bayi.

Letakkan bayi pada perutnya (tengkurap) saat ia bermain, saat selesai mandi atau setelah mengganti popoknya selama beberapa menit sesuai kenyamanan dan kemampuan bayi.

Kita akan melihat, dengan melakukan tummy time secara rutin, selain mencegah atau memperbaiki kepala bayi yang flat, bayi akan memiliki otot leher yang kuat, membantunya mengembangkan kemampuan ototnya sehingga bisa lebih cepat merangkak dan duduk.

4. Perhatikan kebiasaan bayi yang bisa memicu terjadinya kepala gepeng.

Dengan melakukan ini kita bisa melihat kebiasaan bayi yang bisa berkontribusi menyebabkan flat head. Misalnya karena mainannya berada di sebelah kanan dari tempat tidurnya ia jadi sering menoleh ke kanan. Atau mainannya tepat berada di atasnya sehingga ia jarang menoleh ke kiri atau ke kanan. Akibatnya bayi beresiko mengalami flat head di bagian belakang kepala.

Lakukan penyesuaian sehingga kepalanya tidak berada dalam posisi yang sama dalam waktu lama. Memindahkan mainannya ke sisi yang lain misalnya.

Konsultasi ke Dokter

Konsultasi dengan dokter apabila dengan cara ini tidak memperbaiki kepala buah hati . Biasanya dengan melakukan ini kepala bayi akan kembali ke bentuk semula karena pada dasarnya kepala bayi akan tumbuh dengan simetris tanpa kita melakukan apapun.

Seiring dengan pertumbuhannya, tubuh akan mengembalikan bentuk kepala ke keadaan semula secara alami. Saat dia bisa duduk sendiri keadaan kepala gepengnya tidak akan bertambah parah, sebaliknya dalam beberapa bulan atau tahun keadaan ini akan semakin berkurang seiring dengan pertumbuhan tulang kepala ke keadaan idealnya, meski derajat gepengnya agak parah.

Apabila kepala bayi tetap tidak kembali ke keadaan normal, konsultasi ke dokter. Jangan mencoba memperbaiki sendiri misalnya dengan memakaikan bayi helm khusus (skull molding helmet) untuk mengatasi flat head.

Jadi sudah jelas ya bagaimana posisi kepala yang benar dan bagaimana hubungannya untuk mencegah terjadinya SIDS dan kepala gepeng. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu ayah dan ibu lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.