Tanda Bayi Kurang ASI Yang Mudah Ibu Kenali

Tanda Bayi Kurang ASI Yang Mudah Ibu Kenali

Tidak sedikit ibu yang merasa khawatir ASInya kurang. Tidak mudah tentu saja untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan ke bayi cukup atau tidak. Tak seperti pemberian susu botol dimana ibu bisa tahu berapa banyak susu formula yang diminum bayi, kita tidak dapat mengetahui berapa banyak ASI yang diminum oleh bayi, berapa banyak ASI yang masih tersisa setelah menyusui. Kita tidak dapat melihat tembus ke dalam payudara.

“Apakah ASI cukup? Bayi kenyang atau tidak dengan ASI yang diberikan?” adalah sesuatu yang sering ditakutkan oleh ibu, terutama ibu baru. Sebenarnya, apabila bayi ibu tampak sehat, pertumbuhannya baik, itu artinya ia baik-baik saja. Meski demikian, jika ibu merasa khawatir dengan kecukupan suplai ASInya, ada baiknya mencari tahu dan berkonsultasi dengan ahlinya (konselor laktasi atau dokter anak). Mencari bantuan sedini mungkin akan sangat baik.

Apabila setelah berkonsultasi ternyata tidak ada yang salah dengan suplai dan kecukupan bayi mendapatkan nutrisinya, ibu bisa menjadi lebih tenang. Ibu pun bisa terhindar dari memberikan susu formula yang tidak perlu yang dapat memicu menurunnya suplai ASI.

Bahaya bayi yang mendapatkan ASI yang kurang adalah:

  • Bayi mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan.
  • Tumbuh kembang bayi terganggu, bayi kecil tidak sesuai dengan usianya.

Jika ibu mendapati buah hatinya mengalami beberapa hal di bawah ini sebaiknya segera menghubungi dokter, konsultan laktasi atau bidan di daerah Anda untuk dibantu dianalisa penyebabnya dan dicarikan jalan keluarnya. Ada beberapa ciri fisik yang bisa kita lihat yang menandakan bayi kurang mendapatkan ASI.

Tanda bayi yang mengalami kekurangan ASI:

Berat badan bayi tidak naik-naik atau bahkan menurun.

Tidak ada tanda yang paling baik untuk menunjukkan kecukupan ASI ibu kecuali bertambahnya berat badan bayi. Kenaikan berat badan bayi rata-rata sebesar 1800 gram sampai 3200 gram per minggu menandakan bayi mendapatkan ASI yang cukup.

Mesti diingat, penurunan berat badan bayi adalah normal di minggu pertama pasca lahir.

Jadi penting mengetahui pertambahan kenaikan berat badan bayi. Jika bayi Anda berat badannya tidak naik-naik, konsultasi dengan dokter.

Bayi tidak cukup sering mengganti popok basah atau popok kotornya.

Produksi popok kotor atau basah yang cukup adalah tanda bayi mendapatkan cairan dan nutrisi yang cukup. Jarang mengganti popoknya dapat berarti bayi kurang mendapatkan ASI. Lima hari pertama pasca lahir bayi bisa mengganti popok basah dan popok kotornya masing-masing 3 kali. Dan ini akan bertambah menjadi sekitar 6 atau lebih popok basah dan 3 kali mengganti popok kotor sehari seiring dengan semakin seringnya bayi menyusui.

Ini bisa berbeda tiap bayi, perkiraan penggunaan popok dipengaruhi oleh banyak hal.

Jarang buang air kecil.

Bayi yang tidak sering pipis seperti halnya popoknya tidak sering basah menandakan ada yang kurang dengan suplai cairan. Saat ini, ia mengandalkan ASI untuk memenuhi kebutuhan cairannya sehingga ini bisa menandakan ASI yang kurang.

Urin bayi berwarna lebih gelap.

Karena cairan yang kurang, warna air kencing bisa menjadi lebih pekat atau gelap. Ini akibat tidak cukupnya cairan dalam tubuh sehingga yang dikeluarkan juga sedikit.

Buang air besar bayi jarang, kotoran sedikit dan berwarna gelap

Keadaan ini ditandai dengan kotoran yang lebih gelap karena berkurangnya cairan dalam tubuh.

Bayi terlihat lemas, tidak aktif.

Karena kurangnya nutrisi yang masuk, asupan ASI yang tidak adekuat, bayi menjadi terlihat lemas. Bayi dapat menjadi lebih iritable (gampang marah) dan lebih sering rewel.

Bibir dan mata bayi kering.

Karena berkurangnya cairan yang masuk yang didapatkan dari ASI, mata dan mulut bayi bisa menjadi kering.

Bayi terlihat kurang puas setiap setelah menyusui.

Ya, meskipun sudah menyusui, menyusuinya sering, bayi terlihat tetap kurang puas, tidak kenyang. Ini menandakan jumlah makanan yang ia dapatkan dari ASI kurang. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal selain suplai ASI yang kurang seperti perlekatan saat menyusui yang tidak baik sehingga bayi tidak dapat mengisap dengan baik, adanya masalah di payudara, dll.

Payudara terasa tidak kempes setelah menyusui.

Payudara yang terisi penuh dengan ASI dapat dirasakan dengan payudara yang kencang dan berisi. Saat menyusui, bayi mengisap sampai ASInya habis. Setelah menyusui payudara akan terasa lebih ringan dan kosong. Apabila ibu merasakan payudaranya masih berat setelah menyusui, itu artinya bayi tidak menyusu dengan baik, bayi kurang minum ASI.

Lama menyusui bisa sangat singkat atau malah sangat lama.

Tidak jarang kita mendapatkan ibu mengeluhkan bayinya yang hanya menyusu beberapa menit, 5 menit atau kurang. Ada pula yang memiliki sesi menyusui yang panjang atau lama. Kedua hal ini adalah tanda adanya masalah pada proses menyusui dan perlu dicarikan solusi agar tidak berdampak ke pertumbuhan bayi.

Ibu bisa mengamati bayinya apakah hal ini terjadi terus-menerus atau tidak. Apabila sering terjadi dan disertai dengan berat badan bayi tidak naik-naik, konsultasi lah dengan dokter. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari masalah perlekatan, masalah payudara atau suplai ASI.

Apa yang bisa ibu lakukan untuk mengatasi suplai ASI yang kurang?

Kunjungi bidan, dokter anak atau konsultan laktasi segera setelah ibu merasa ASInya kurang dan berat badan bayi tidak naik signifikan.

BACA JUGA:

Ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan agar ASI banyak, diantaranya:

1. Pastikan posisi menyusui sudah nyaman dan tepat. Perlekatan (latch-on) benar.

2. Biarkan bayi menghabiskan ASI di satu payudara dulu sebelum pindah ke payudara lainnya. Lakukan tanpa paksaan dan biarkan bayi kapan saatnya berhenti makan.

3. Berikan ASI on demand tanpa terikat dengan jadwal yang ketat kapan harus menyusui. Biasanya, di 1 bulan pertama frekuensi menyusui bayi adalah tiap 2 sampai 3 jam. Hindari menyusui dengan interval tiap menyusui yang lama.

4. Jika bayi suka menyusui sambil tertidur, berikan payudara kiri dan kanan secara bergantian agar tiap payudara mendapatkan waktu menyusui yang cukup, menjaga suplai ASI di kedua payudara tetap terjaga.

5. Ibu sebaiknya menghindari tertidur dengan posisi perut di bawah (tengkurap). Adanya tekanan berlebih pada dada dapat memperlambat produksi air susu ibu.

6. Hindari penggunaan kempeng atau pacifier karena dapat menyebabkan bayi bingung puting. Hindari juga pemberian susu formula kecuali jika direkomendasikan oleh dokter untuk membantu menaikkan berat badan bayi.

7. Melakukan pompa ASI di antara waktu menyusui dapat memicu produksi ASI.

8. Lakukan power pumping untuk lebih memicu suplai ASI. Lakukan pompa ASI secara on dan off selama 1 jam tiap hari. Misalnya, pompa ASI selama 20 menit lalu berhenti selama 10 menit. Lakukan lagi pompa selama 10 menit lalu berhenti lagi selama 10 menit. Lakukan terus-menerus secara bergantian sampai selama 1 jam.

Trik ini meskipun tidak instan dapat memicu produksi ASI setelah dilakukan selama 1 minggu.

9. Ibu hindari stres, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup.

10. Jaga kebutuhan cairan dengan minum yang cukup 2,5 sampai 3 liter per hari.

Masalah ASI kurang adalah hal yang sering dialami oleh ibu baru. Apabila mengalaminya, yakinlah ibu tidak sendiri. Cari lah bantuan dokter untuk mengatasinya. Ketahuilah, Anda adalah ibu yang hebat yang peduli, mencintai buah hatinya. Apapun usaha yang sudah kita lakukan, itu adalah usaha maksimal kita yang terbaik yang bisa kita berikan untuk buah hati.


Cek tulisan terbaru.
Lihat tips dan topik lainnya.

Bantu ayah dan ibu lainnya dengan share tulisan ini ke Facebook dan WhatsApp.